Dalam Sujud Terakhirku, Namamu Selalu Ada Di Setiap Doaku

Mencintaimu dalam doa, berharap kelak kita akan kembali bersama. Berharap kelak, jodoh memang menjadi takdir kita. Doa dan harapan itulah yang menguatkan aku hingga saat ini. Iya, ini adalah sebuah cerita tentangku. Tentang seorang gadis yang mengharapkan kehadiran pangerannya di ujung usia. Gadis dengan pengharapan kalau Tuhan akan memperpanjang usianya seperti dia memperpanjang harapnya.

Leukimia, sebuah penyakit yang membunuh banyak harapan. Bahkan mendengar namanya saja sudah membuat orang-orang bergidik. Apalagi aku yang mengidapnya? Tapi tak apalah, mungkin ini adalah satu wujud cinta Tuhan kepadaku. Wujud kepeduliannya agar aku selalu mengingat-Nya. Bahkan mungkin, ini adalah cara-Nya agar aku tak terperangkap dengan fitnah dunia yang kian menyesatkan.


Aku sudah ikhlas jika sewaktu-waktu Tuhan memanggilku. Dan jika aku boleh meminta untuk satu permintaan yang terkabulkan, aku hanya ingin berjumpa dengan Ali. Dia teman SMA-ku dulu. Bukan, bukan teman, tapi lebih tepatnya sahabat. Di mana ada Ali, selalu ada aku.

Akan tetapi, persahabatanku dan Ali harus kandas semenjak kami lulus SMA. Ali keluar kota tanpa berpamitan padaku. Padahal, ada hal penting yang ingin kuungkapkan pada Ali. Aku ingin bilang padanya, kalau aku mulai merasakan sesuatu yang berbeda terhadapnya.

Hingga hari berganti minggu, bulan beralih menjadi tahun, aku tak pernah mendengar kabar tentang Ali. Dan sekarang, saat kutemui takdirku di ujung waktu, akupun belum menemukan jawaban perihal Ali. Ah, seandainya saja waktu mampu berputar ke masa lalu, ingin kuungkapkan perasaanku sebelum Ali pergi.

“Kamu masih mengharapkannya, Li?” tanya Kak Vina kepadaku.

“Sampai kapanpun aku terus berharap, Kak. Dan kuharap Tuhan akan mengabulkan doaku sebelum Dia memanggilku,” jawabku dengan datar.

Kak Vina duduk di sebelahku. Menatapku lekat-lekat. “Kamu harus sembuh, Li. Buat Ali!” tandasnya.

“Kuharap seperti itu, Kak.”

Tapi apakah ada keajaiban yang akan Tuhan berikan kepadaku? Adakah belas kasih Tuhan untukku? Jika selama ini saja dalam setiap sujud aku berharap Tuhan mempertemukanku pada Ali, namun Tuhan tak juga mengabulkan doa itu.

Baca Juga : Putri Dewi Sartika, Terima Kasih Telah Mempermainkan Perasaanku, Semoga Engkau Mendapatkan Kebahagiaan Yang Kau Inginkan

Terkadang, aku tertunduk pada kekecewaan. Aku lelah pada pengharapan-pengharapan kosong. Tapi apakah pantas jika seorang hamba marah pada Tuhannya? Bukankah Tuhan lebih tahu yang terbaik untuk hamba-Nya? Dan menyiksaku dalam pengharapan tanpa jawaban adalah hal yang terbaik untukku.

Aku meneteskan air mata dan aku bertanya pada Tuhan, kenapa Beliau menganugerahkan perasaan yang akhirnya menyiksaku? Aku lelah, sangat lelah. Tapi apakah Tuhan mengerti itu?

Tanpa mengucapkan sepatah katapun, Kak Vina kemudian memelukku. Kakakku seolah tahu dengan apa yang bergejolak dalam hati dan pikiranku. Selama ini, dialah orang yang paling tahu tentang aku dan Ali. Tentang persahabatan yang berujung rasa cinta tak tersampaikan. Kak Vina seolah menjadi saksi tumbuhnya aku dan Ali hingga takdir memisahkan kami.

“Li, kakak percaya suatu saat nanti Ali pasti kembali. Dan Kakak harap, kamu juga akan percaya itu.”

“Aku percaya Kak, tapi apakah usiaku mampu menanti Ali?”

“Li, plis.”

“Kenyataannya seperti itu kan, Kak?”

Aku mampu berharap dan terus berharap akan Ali. Tapi apakah Leukimia dan usiaku juga mampu menunggunya? Aku ini sakit. Aku bukan Lila yang dulu, bukan! Aku hanya gadis berpenyakitan yang menunggu kematian menjemputnya. Usaha berobat kesana kemari, hasilnya tetap sama. Menunggu dan menunggu kematian datang menjemput.

“Kamu enggak boleh ngomong kayak gitu, Li. Kakak yakin kamu akan sembuh!”

Aku terdiam. Seyakin itukah? Dan apakah takdir akan mengabulkan keyakinan itu?

“Kak, Lila mau sholat,” ucapku dengan nada pelan karena kondisiku hari ini sangat lemah.

“Kamu kan bisa sholat sambil tidur, Li,” jawab Kak Vina yang selalu setia menemaniku.

“Tapi Lila mau bersujud, Kak.”

“Kamu masih sakit, Li!”

“Lila kuat kok, Kak.” Aku memaksakan diri untuk terbangun dari tidurku. Tapi sial, tubuhku terlalu lemah. Bahkan untuk bernafas saja terlalu berat. Aku benci kondisi yang seperti ini.

“Li, plisss. Jangan memaksakan diri. Tuhan itu Maha Tahu!” Ucap Kak Vina menadaskan.

Aku hanya terdiam dan inginku mengutuki diri sendiri yang begitu lemah, tapi kurasa itu percuma. Mengutuki diri sendiri tak akan membuat tubuhku menjadi kuat, kan? Justru aku hanya akan terperangkap dalam emosi dan membuat jiwaku semakin lemah.

Baca Juga : Suamiku Susah Diajak Ngobrol, Tapi Dia Adalah Suami Terbaik Bagiku

“Kamu istirahat dulu ya, Li. Nanti kalau kamu udah enakan, kamu bisa bersujud lagi.” Kak Vina menasehati. Dan tak ada hal lain yang bisa kulakukan selain aku menuruti perintah Kak Vina.

Aku berusaha memejamkan mataku, tapi apa daya aku tak bisa tidur. Dalam anganku hanya ada bayangan Ali dan Ali saja. Sungguh, wajah Ali enggan untuk enyah dari anganku. Dia seolah tertawa mengejekku yang tak mampu menangkap bayangnya.

“Ali!!!” Aku berteriak dan bangun dari tidurku. Keringat dingin membasahai tubuhku. Kulihat di sekelilingku, sepi dan tak ada seorangpun. Aku bermimpi.

Aku bernafas tersenggal-senggal dan air mataku kembali menetes, secepatnya lalu kuusapnya. Akupun mencoba turun dari tempat tidurku dan tubuhku tak selemas tadi. Dengan berjalan pelan, aku menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu. Setelahnya aku mengambil mukenaku dan aku bersujud melontarkan doa-doa pada Tuhan.

Sungguh, ini adalah doa sekaligus pengharapan terakhirku. Hingga akhirnya kurasakan sesuatu yang berbeda, aku seolah terlepas dari dalam ragaku. Melayang dan menyaksikan orang-orang di sekelilingku meneteskan air mata sembari memeluk ragaku.

Apakah aku sudah mati? Tanyaku pada diriku sendiri.

Dan tak seorangpun mampu melihatku, tak seorangpun mampu mendengar dan menjawab tanyaku. Termasuk seseorang yang selama ini namanya kurapalkan dalam doa. Seseorang itu datang… iya dia datang namun aku tak mampu mengucapkan sepatah katapun yang mampu dia dengar.

Dari dimensi yang berbeda aku menatap Ali yang datang tak sendiri. Seorang perempuan seusiaku berjalan di sisinya, seseorang yang tak kukenal siapa dia. Mungkin seseorang itu teman baru Ali, atu malah kekasih Ali? Ah, sejuta teka-teki itu tak mampu terjawabkan dari dalam kepalaku yang sangat penasaran dengan hal tersebut.

Baca Juga : Menanti Datangnya Cintamu di Dalam Sepinya Hati Ini

Kalaupun dia teman Ali atau kekasih Ali, semua tak akan berpengaruh padaku, bukan? Aku bukan Lila yang dulu lagi, aku adalah Lila dari dimensi lain. Lila yang hanya mampu melihat namun tak mampu dikenal. Lila yang hanya mampu berharap dalam pengharapan kosong. Karena saat ini Lila… bukanlah Lila yang sebelumnya lagi sebab kini Lila sudah tiada.

Sudahlah, mungkin ini yang terbaik. Ketika Ali datang, nyawaku sudah tak lagi menyatu dengan ragaku. Dan inilah jawaban dari doaku, Tuhan tak ingin melihatku merasakan patah hati. Karena Ali kembali, tapi dia tak sendiri lagi dan dia telah memiliki seorang wanita yang selalu menemaninya.

Baca Juga : Ya Allah, Tolong Balas Sakit Hati Ini, Gantilah Ia Dengan Wanita Yang Lebih Baik

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel