Ketika Aku Telah Siap namun Tak Ada Seorang Wanita pun yang Ingin Menikah Denganku

Aku seorang lelaki yang telah cukup umur dan matang secara fisik dan mental untuk menikah dalam membina kehidupan berumah tangga. Menikah adalah keinginan dan impian setiap insan manusia di muka bumi ini, walau terkadang ada orang yang tidak menikah dengan terkendala sesuatu entah itu penyakit atau kehidupan yang tak kunjung membaik dan berubah.

Aku lelaki yang benar-benar telah siap lahir dan bathin, aku tak pernah menginginkan dan membayangkan bahwa wanita yang menjadi pendampingku kelak merupakan wanita yang sempurna dalam bentuk fisik dan paras wajah. Yang aku inginkan hanyalah dia mau menerimaku apa adanya dengan segala kelamahan dan kekuranganku sebagai pendamping hidupnya dalam menghadapi suka duka hidup bersama dalam ikatan pernikahan.


Seiring berjalannya waktu tentu saja banyak masa-masa yang sudah terlewati dan akan menjadi kenangan di saat-saat kita sedang sendiri, menyendiri dan menyepi dari segala aktifitas. Dalam hidupku ini tidak terlalu banyak yang spesial, mulai dari percintaan dan menjalin hubungan dengan seorang wanita.

Dahulu, pernah ada seorang wanita yang selalu menghiasai hari-hari ku ini, bisa dikatakan bahwa kami ada hubungan seperti layaknya orang banyak yaitu kekasih. Walau kami sangat jarang bertemu untuk bertatap muka, namun kami terus berkomunikasi melalui telepon selular. Tak banyak kisah yang bisa ku ceritakan dan ku tuliskan, karena semakin ku ingat hati ini pun semakin perih dan sakit.

Aku sudah memiliki tekad yang kuat untuk melamar dan menikahinya, dengan bekerja keras dan uang yang ku terima (gaji) tak pernah lupa untuk selalu aku tabungkan setiap bulannya, hingga sampai waktu nya tabungan itu sudah dirasa cukup untuk aku datang dan melamarnya, namun apa di kata malang tak dapat di hindar, musibah pun datang menghampiriku.

Uang yang sudah ku kumpulkan dari hasil jeri payahku selama bekerja, terpaksa harus aku gunakan untuk metutupi untuk hal yang tidak pernah aku lakukan ditempatku bekerja, dan itu sangat memukul perasaan dan menyakitkan hati ini. Dan pada akhirnya wanita yang ku kira akan berjuang bersamaku disaat aku berada pada kesusahan, meninggalkan dan pergi begitu saja. Dan tentu ini membuyarkan semua harapan dan impianku untuk segera menikah. Karena dia juga sudah tidak mau lagi menjalin hubungan denganku.

Seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai kembali meluruskan niatku untuk menikah. Walau aku harus memulainya dari awal lagi. Namun kali ini caranya sangat berbeda, aku benar-benar memanfaatkan media sosial sebagai sarana untuk mencari dan mendapatkan jodoh. Hanya berawal dari status dan postingan di Facebook, aku menulis ‘’Aku lelaki yang telah siap untuk menikah dan aku mencari wanita yang telah siap jua untuk menikah, jika kita saling mencari satu sama lain, maka bukalah kesempatan untuk kita saling menjalin komunikasi dan hubungan’’.

Berawal dari sanalah, mulai banyak yang mengirimkan pesan singkat melalui whatsapp dan kotak masuk facebook untuk berkenalan lebih lanjut. Ada yang meminta untuk dikirimkan foto, setelah dikirimkan banyak pula setelah itu tak ada kabar beritanya atau menghilang begitu saja. Namun masih ada juga wanita-wanita yang berhati tulus yang tak memandang seseorang hanya dari fisik saja.

Dari pesan-pesan singkat melalui whatsapp dan facebook inilah mulai terlajin komunikasi, hari yang ku lalui tak seperti hari-hari biasanya, karena telpon genggam ini selalu berdering untuk pesan masuk. Jika aku sedang bekerja maka pesan itu akan ku balas nanti di saat waktu senggang.

Aku seperti mempunyai harapan, dan aku mulai bersemangat kembali. Aku terus selalu menjaga komunikasi ini agar tidak terputus hubungan. Karena yang kucari memang wanita yang siap lahir bathin untuk menikah denganku dalam mengarungi bahtera rumah tangga pada ikatan tali pernikahan.

Sebut saja nama-nama wanita itu seperti Rindu, Kasih, Cinta dan Asmara. Mereka lah yang sehari-hari mengirim pesan pesan singat melalui whatsapp. Aku tidak mau gegabah dan terburu-buru dalam menganggapi hal ini agar tidak terulang lagi kegagalanku di masa lalu, dan aku benar-benar ingin memastikan apakah aku ini pria yang mereka inginkan atau hanya sekedar main-main saja.

Rindu sebuah nama wanita yang telah ku sebutkan, ternyata hanya sekedar main-main saja dan menganggap ini sebatas candaan dan gurauan. Dengan mudahnya ia berkata ‘’Maaf ya bang kalau ini Cuma bercanda, karena Rindu masih kuliah dan setelah itu bekerja dan tidak menikah dalam waktu yang dekat ’’.

Baca Juga : Mencintai dengan Mengharap Ridho Allah SWT 

Kasih berbeda dengan Rindu, walau ia bisa menerima aku apa adanya, namun yang jadi penghalang kali ini adalah restu dari orang tua. Karena aku dan Kasih berbeda secara jenjang pendidikan, pendidikanya lebih tinggi dari padaku, dan itu membuat orang tuanya tidak merestui hubungan ini. Dan aku kembali harus menerima kata-kata yang sepertinya sebuah perpisahan ‘’Semoga abang nanti menemukan entah dimana dan kapan waktunya seorang wanita yang tulus menerima segala apa yang ada di diri abang, dan tidak ada penghalang dari niat baik abang untuk segera menikah, maafkan aku tidak bisa meneruskan hubungan ini (Kasih)’’.

Mengapa Cinta dan Asmara menjadi nama di urutan paling terakhir yang ku sebutkan, karena mereka telah benar-benar mempermainkan perasaan ini. Memberikan ku kesempatan dan harapan namun untuk menghancurkannya. Aku benar-benar terbuai dengan susunan-susunan huruf yang menjadi kalimat manis yang pada akhirnya berbuah racun. Kedua wanita ini pada akhirnya tidak memutuskan untuk menerimaku dikarenakan aku takkan mampu memberikan mereka kehidupan nanti setelah menikah.

Sungguh ini benar-benar membuat aku terluka, sebaik-baiknya tempat berharap hanya kepada Tuhan sang pemilik alam semesta ini. Kecewa tentu aja, sakit apa lagi. Aku tak pernah putus harapan, dalam setiap doa aku selalu meminta ‘’Jika jodohku masih jauh disana maka segeralah pertemukan kami dalam mahligai cinta hidup berumah tangga, dan jangan biarkan aku berlama-lama seorang diri, sungguh hati ini selalu merasa sepi’’.

Aku akan terus berusaha untuk mencari dan menemukan seorang wanita yang kelak akan mendapingi hidupku dalam suka maupun duka dan menjadi ibu dari anak-anakku, dari kisah yang ku alami ini, mungkin kalimat ini nampak biasa-biasa saja, namun memiliki makna yang sangat dalam.

‘’Jangan pernah memberi harapan kalau pada akhirnya tidak bisa mencintai dan menerima’’.

‘’Jika di awal harta dan kekayaan itu dianggap sebagai sebuah kebahagiaan maka takkan pernah ada tempat untuk melihat sebuah ketulusan dari dalam hati dan perjuangan untuk menggapai kebahagian walau tak memiliki harta sekalipun’’

‘’Seharusnya berikan lelaki itu kesempatan, agar ia dapat membuktikan bahwa ia memang pantas untuk di pilih, sesulit apapun keadaannya maka ia tak akan pernah berhenti untuk selalu membahagiakan pasangannya’’

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel