Lihat Dulu Perjuanganku, Setelah Itu Nilai Apa Aku Pantas Hidup Bersamamu

Menikahi Vania sudah menjadi keputusanku. Sebelum aku memberanikan diri untuk melamarnya, aku sudah memikirkan matang-matang konsekuensinya. Mulai dari menerima kecerewetannya, memahami keegoisannya sampai dengan mengimbangi gaya hidupnya.

Aku tahu, Vania adalah anak emas dalam keluarganya. Orang tuanya, kakak-kakaknya sampai dengan keluarga besarnya terlalu memanjakan Vania. Hampir semua yang Vania bisa didapatkannya tanpa waktu lama. Apa yang diucapkannya, bisa dengan mudahnya didapatkannya.


“Kamu yakin dengan pilihan kamu itu, Rend?” tanya Ibu tatkala aku mengungkapkan keinginanku untuk melamar Vania. Dan aku menjawabnya dengan sebuah anggukan penuh keyakinan.

Aku mengangguk dengan mantap. Aku yakin, aku bisa membahagiakan Vania.

Sebenarnya Vania itu adalah gadis yang baik. Dia mudah bergaul dengan siapa saja tanpa memandang status sosial. Vania mudah mengulurkan bantuan pada siapa saja yang membutuhkannya. Sementara soal keegoisan dan kemanjaannya, itu hal lain yang kuyakin aku bisa mengatasinya.

“Rend, bukannya Ibu tidak merestui kamu dan Vania. Tapi alangkah baiknya kamu pikirkan ulang niatmu itu. Kamu dan Vania itu berbeda Rend,” tambah Ibu dengan lembut.

Aku menarik nafas panjang dan aku tahu apa yang Ibu maksud. Bukan hanya gaya hidup dan sifat kami saja yang berbeda.

Gaya hidup Vania yang cenderung hedon sementara aku dan keluargaku begitu sederhana dan apa adanya. Sifat Vania sebagai anak bungsu yang egois dan manja, sementara aku anak sulung yang bertanggung jawab pada seorang adik perempuan.  Ketika cinta sudah berbicara, semua itu bukan lagi alasan untuk aku melamar Vania.

“Vania itu gadis yang baik, Bu…” jawabku begitu singkat.

“Ibu tahu, Rend. Tapi pernikahan itu bukanlah suatu hal yang mudah. Tak cukup soal cinta saja!”

“Tapi Rendi kan juga sudah bekerja, Bu! Rendi juga sudah mempunyai rumah untuk Vania. Penghasilan Rendi juga lebih dari cukup. Pun Vania juga bekerja. “

“Bukan itu saja, Rend!”

“Lantas?”

Ibu menarik nafas panjang dan menatapku lekat. Kedua bola matanya memancarkan ketulusan yang penuh kasih. Aku sangat memahami wanita yang melahirkanku itu. Jika kali ini Ibu menyuruhku untuk berpikir ulang soal Vania, bukan berarti Ibu tidak menyukai Vania. Tapi aku tahu, Ibu hanya ingin yang terbaik untuk anaknya.

“Rend, menikah itu bukan hanya menikah karena aku dan kamu saling mencintai. Bukan sebatas aku mau menerima kamu dan sebaliknya kamu mau menerima aku. Tapi, menikah itu juga menikahi keluarganya. Menerima apa adanya yang ada pada keluarganya.” Ucap Ibu panjang lebar. “Kelak, kamu akan mengerti apa yang Ibu maksud.” Imbuhnya.

“Aku itu sebenarnya penting enggak sih Rend, buat kamu?” tanya Vania dengan nada meninggi. Kulihat ada raut kecewa di wajah ayunya.

Aku menarik nafas panjang dan menatapnya lekat. Berusaha membendung emosi,karena aku tak mungkin menanggapi amarah Vania. Bisa-bisa perang dunia ketiga.

“Ya jelas penting dong Van, kamu kan isteri aku,” ucapku mencoba untuk lembut.

“Dan kamu ingat ini hari apa?” tanyanya dengan sinis.

“Anniversary kita,” jawabku santai.

“Lantas?”

“Aku minta maaf!”

Vania tersenyum sinis. Aku tahu dia kecewa karena Rencana liburan yang jauh-jauh hari kami rencanakan harus batal lantaran aku harus menemani Aira adikku bersalin. Ya, mana mungkin aku membiarkan adikku itu di rumah sakit seorang diri sementara suaminya tengah dinas ke luar kota dan Ibu tengah menemani Bapak dinas ke luar Palembang. Sebagai seorang kakak yang diberi tanggung jawab oleh Ibu, aku terpaksa membuat Vania kecewa. Untuk yang kesekian kalinya.

“Aku enggak tahu, apa artinya aku dalam hidup kamu Rend! Ini bukan untuk yang pertama ataupun kedua kalinya.” Ucap Vania lalu beranjak dari duduknya dan menuju kamar.

Baca Juga : Menanti Datangnya Cintamu di Dalam Sepinya Hati Ini

Hal lain yang bisa kubuktikan pada Vania kalau dia adalah yang terpenting dalam hidupku adalah memprioritaskan Vania di atas keluargaku sendiri. Memberi kejutan-kejutan kecil untuk Vania dan sesering mungkin mengajak Vania dan anak-anak jalan-jalan. Yah, meskipun terkadang tanggapan Vania masih saja sedingin bola salju.

Dan demi membuat senyum Vania kembali, aku sering menolak permintaan Ibu untuk datang mengunjunginya. Aku ingin Vania percaya, dialah prioritas dalam hidupku. Meskipun, mungkin aku salah menunjukkannya.

“Mas, kamu belum bayar uang sekolah Diandra?” tanya Vania kepadaku.

“Maafin aku, Van…” jawabku.

Vania terlihat begitu marah. “Kenapa?”

Aku hanya terdiam. Tak mampu menjawab pertanyaan Vania.

“Jawab, Mas! Kenapa?” Vania terus mendesak.

“Aira butuh uang, Van. Dan Ibu meminta bantuanku.”  Jawabku tanpa berani memandang Vania.

“Tapi bukan berarti uang sekolah Diandra kan Mas, yang kamu korbankan?”

Iya, aku salah. Tapi, apa aku juga salah jika aku membantu keluargaku? Lagipula, kenapa sih Vania memilih sekolah yang elite untuk Diandra? Belum lagi sekolah Kevin! Aku tahu, niat Vania itu baik. Dia hanya ingin yang terbaik untuk anak-anak. Tapi apa harus dengan cara seperti ini? Aku sama sekali tak bisa membatu orang tua dan adikku lantaran gajiku sudah ludes untuk membayar uang sekolah anak-anak dan memenuhi kebutuhan kami.

Tak seperti biasanya Vania pulang selarut ini. Tanpa memberi kabar pula. Sebagai seorang suami, wajar jika aku mengkhawatirkannya.

“Van, dari mana saja kamu?” tanyaku dengan nada datar.

“Lembur,” jawabnya singkat sembari melepas sepatunya.

“Apa harus sampai tengah malam seperti ini?”

Vania menarik nafas panjang. Menatapku lekat-lekat. Wajahnya terlihat sinis. “Aku butuh uang untuk membayar sekolah anak-anaku dan memberikan mereka fasilitas yang pantas,” jawab Vania dengan sinis.

Aku mengempalkan tangan. Inginku memukul diriku sendiri. Memakinya.

“Apakah yang aku berikan selama ini kurang, Van?” tanyaku dengan nada melemah.

“Bukan masalah kurang apa tidaknya, Mas. Tapi faktanya apa? Uang sekolah Diandra enggak kamu bayar. Bahkan, diam-diam kamu menjual mobil kamu juga kan, Mas? Buat apa?” Vania kembali menyerangku.

Baca Juga : Pernikahan Ini Akhirnya Dibatalkan, Karena Hadirnya Dirimu 

Aku hanya terdiam,tak menjawabnya. Mobil itu kujual lantaran membantu keuangan keluarga Bapak dan Ibu yang sedang ada masalah perekonomian.

“Mas, sebaiknya kita pisah.” Ucap Vania malam itu dikala kami selesai makan malam.

Aku menoleh ke arahnya dan Menatapnya. Menatap kedua bola matanya yang penuh dengan kekecewaan-keecewaan.

“Delapan tahun kita menikah. Kamu enggak pernah bisa jujur sama aku, terutama tentang keluargamu. Tentang permasalahan mereka. Dan di belakang aku, banyak hal-hal yang kamu sembunyikan.” lanjut Vania tanpa menatapku. “Acara liburan yang gagal, uang sekolah Diandra, mobil yang diam-diam kamu jual. Yang terakhir, mobil buat Pak Tino antar jemput sekolah anak-anak juga dibawa Aira kan, Mas?” tanya Vania membuatku skak mat.

“Aku tidak pernah membenci keluarga kamu. Sama sekali tidak. Aku menerima kamu apa adanya. Keadaan keluarga kamu yang sebenarnya. Permasalahan Bapak yang ternyata isterinya bukan hanya Ibu. Aku enggak peduli semua itu. Tapi… aku enggak bisa Mas kayak gini terus. Dan udah setahun ini aku pikirkan. Aku isteri kamu, tapi aku enggak pernah kamu nafkahi dan banyak hal yang kamu sembunyiin dari aku. Dan aku minta, kita… CERAI!”

“ENGGAK VAN! ENGGAK!”

Tapi Vania enggan mendengarkan ucapanku.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel