Membangun Rumah Tangga di Bawah Pernikahan

Pernikahan selalu di indah di awal, namun kemudian dibumbui persoalan-persoalan yang kadang menyiksa. Kehidupan berumah tangga memang bisa lepas dari persoalan. Kehidupan rumah tangga yang rumit seharusnya tidak membuat kita menjadi terpuruk. Sebagai pasangan suami istri, kita harus tetap ‘’menarik’’ hingga pasangan kita makin menyayangi dan mengagumi kita.

‘’Menarik’’ itu terbangun dari kebutuhan kepribaadian. Berbagai dimensi kecerdasan berpadu membangun kemenarikan, mulai dari kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional hingga kecerdasan spiritual dan kecerdasan religius.


Jagalah keramahan dan senyuman karena hal itu akan menjadi daya tarik universal. Keramahan menjadi salah satu kunci sukses seseorang, sebab dengannya ia mudah diterima orang lain. Dan ini menjadi faktor penting dalam berbagai kerja sosial dan professional.

Semantara itu, senyum adalah pancaran suasana hari. Murah senyum dan ramah itu bukan tampilan sesaat. Ia adalah cerminan kepribadian. Dengan senyuman, pasangan kita mendapatkan ketentraman dan kahangatan jiwa. Setiap kali ia mendapatkan senyuman, terbitlah suasana: ‘’kemarilah, di sini aku selalu ada untukmu’’, menghiasai relung jiwanya.

Persoalan itu untuk dipecahkan dan jangan membuat kita berdiam diri. Percayalah, kalau kita bergerak dan berusaha, kita akan menemukan jalan keluar. Kalimat-kalimat itu memang normatif.

Demikian pula dalam kehidupan rumah tangga kelak. Ketika ucapan-ucapan baik itu keluar dari seorang istri dan ketika hal itu diucapkan engan penuh rasa optimis dan dibarengi dengan keceriaan, yakinlah bahwa seorang suami akan merasa senang memperoleh anugerah terindah dalam hidupnya.

Seorang yang optimis itu tak akan berdiam diri dan bersedih dalam himpitan masalah. Ia akan mengurai masalah, ia akan kerjakan apa yang bisa dikerjakan terlebih dahulu, tanpa menunda-nunda.

Karena sikap melekat seperti ini, ia tak pernah mendapatkan dirinya menunggu himpitan segugung masalah. Setiap ada permasalahan hidup, ia cepat menyelesaikannya. Karena geraknya ini, setiap kali menyelesaikan satu pekerjaan, sekecil apapun, ia mendapatkan kesenangan jiwa. Dan karenanya sikap ceria selalu bisa di pelihara.

Bangunan rumah tangga itu ibarat bahtera yang berlayar mengarungi samudera. Adakalanya cuaca buruk melanda lautan. Angin dan ombak kencang menerpa. Pada saat itu terujilah sifat sabat dan teguh hati.

Seorang suami akan sangat bersyukur dengan kesabaran dan keteguhan hati istrinya ketika menghadapi berbagai kesulitan hidup. Hari-hari ketika persediaan uang bahkan tak mencukupi untuk hidup sehari, ketika mesti bekerja keras karena memang tak ada dana untuk menggaji seorang pembantu, ketika mesti berjalanan cukup jauh mengatar anak bersekolah dengan mendorong baby-car adiknya pula.

Atau ketika hadir suara-suara, ‘’bagaimana mungkin kami bersabar dengan kondisi begini? Sekali-kali berontak dong dengan suami...’’ ketika itu terjadi, kesabaran dan keteguhan seorang istri dalam menjalani episode kehidupan di uji.

Tentu saja keteguhan hati itu lahir dari saling pengertian dan adanya keyakinan, bahwa suami tidak akan berdiam diri dengan kondisi yang ada. Tapi landasan utama keteguhan ini adalah pada keyakinan, bahwa Allah tak menginggalkan hambaNya, dia akan menolong saat upaya kita sudah sampai pada batasannya. Saat kita berserah diri di ujung segala harapan dan hanya menggantungkan diri padaNya.

Ketahulilah bahwa manusia tak ada yang terbebas dari kekhilafan dan kekeliruan. Begitu juga seorang suami terhadap istrinya. Bahkan di hadapan istrinya, hampir semua ketidaksempurnaan yang dapat ia tutupi di luar rumah, akan terbuka.

Sifat penyayang dan pemaaf amat diperlukan seorang suami, dihadapkan pada segala kelemahan dirinya. Pengertian istri sungguh menjadi sesuatu yang amat dihajatkan. Dengan pengertian istri, seorang suami terhindar dari keputusasaan, menyalahkan diri sendiri terlalu jauh. Dengan pengertian istri, seorang suai tetap bisa terjaga harha diri dan sikap optimisnya.

Penyayang serta pemaaf juga terlihat pada keseharian istri dalam mendidik anak-anak kesayangannya. Suami akan senang melihat anak-anak tumbuh dalam suasana kasih sayang. Pemaafan atas kesalahan anak-anak bukan untuk mentolelir kesalahan itu, tapi untuk memberikan kesempatan kepada mereka belajar dari kesalahannya.

Penyayang juga menjadi karakter yang muncul saat istri berinteraksi dengan orang tua dan kerabat suaminya. Pernikahan itu menyatukan dua bani. Dan ketika suami mendapatkan istrinya menerima dan diterima dengan baik dan bahkan menjadi kesayangan orang tua dan karib kerabatnya, sungguh ia merasakan rasa senang tiada tara.

Bekerja sama dan saling menolong dalam kehidupan rumah tangga menjadi tuntutan mendasar. Adapun sifat empatif dan ringan tangan dalam menolong disini lebih ditekankan pada karakter seorang istri bagi masyarakat di sekelilingnya.

Sebuah rumah tangga menjadi bagian dari satu masyarakat. Keharmonisan satu keluarga dalam menempatankan diri di tengah masyarakat menjadi satu kepuasan batin dan kebahagiaan tersendiri. Ketika sesorang istri menunjukkan sikap empatif dan banyak memberikan pertolongan kepada orang-orang di sekeliling rumah, seorang suami akan mendapatkan pesona sosial pada istrinya.

Baca Juga : Keindahan Dalam Pernikahan

Selain itu, seorang istri yang memberikan perhatian terhadap masyakarat sekelilingnya justru akan semakin bersikap dewasa dalam mengatasi permasalahan rumah tangganya. Ini menjadikan suasana komunikasi dengan suaminya dirumah lebih seimbang dan menentramkan.

Ketahuilah bahwa pesona sosial pada seorang istri lebih dirasakan suaminya, ketika ia memberikan kontribusi lebih sistematis kepada masyakaratnya. Tidak menjadi majalah pada bidang apa kontribusi ini dicurahkan, pada pendidikan, kesehatan, perkenomian, kesejahteraan, atau beberapa sektor industri. Yang pasti keaktifan dan produktifitas seorang istri bagi masyarakatnya menjadi daya tarik tersendiri bagi suami.

Produktifitas ini tentu saja tidak mesti identik pada jauh meninggalkan urusan rumah tangga. Basis dari segala aktifitas sosial istri itu adalah bagaimana ia menjadi aktifis yang memiliki visi terbangunnya keluarga-keluarga yang sehat, cerdas dan sejahtera.

Kepribadian seorang manusia itu terus berkembang dan tumbuh menuju kematangan tatkala proses belajar terus menyertainya. Dari waktu ke waktu istri pembe;ajar akan selalu menghadirkan kemenarikan yang baru.

Ketahuilah bahwa puncak dan sekaligus landasan bagi segala daya tarik seorang istri adalah pada ketekunannya menjalankan ibadah dan mengikhlaskan segala cinta, aktifitas dan kerja-kerjanya semata untuk mengharapkan keridhoan ilahi.

Pada karakter ini menujukkan seorang istri merupakan individu yang independent dari siapapun orangnya, termasuk dari suaminya. Ia akan menggapai kemuliaan dirinya di hadapan Allah SWT Penguasa Alam Semesta ini dan di hadapan segenap makhlukNya, termasuk di hadapan suaminya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel