Menanti Datangnya Cintamu di Dalam Sepinya Hati Ini

“Lis, kukenalin sama temanku mau enggak?” Tanya Alena teman kerjaku. Aku hanya tersenyum dan menggeleng pelan.

“Kenapa sih, Lis? Dia tuh tampan, baik, pinter dan… kaya! Pasti Mama kamu suka.” Tambahnya.

Aku hanya terdiam. Kalau boleh jujur, ucapan Alena yang terakhir itu sedikit menyinggung hatiku. Tapi apa boleh buat, kenyataannya Mama pernah menolak pria yang dekat denganku lantaran dia bukan anak orang kaya. Dan dulu Mama juga terlalu pemilih soal pria lantaran materi yang dimilikinya. Ini sudah berlaku pada kedua kakak perempuanku.


Terakhir aku dekat dengan seorang pria dan Mama menolaknya dengan kasar. Dan semenjak saat itu aku seolah ketakutan untuk berkenalan dengan seorang pria. Aku takut jatuh cinta, aku takut patah hati dan aku takut Mama kembali menolaknya.

“Lis, ngalamun aja sih?” Alena menyadarkan aku dari lamunan.

Aku hanya tersenyum. “Aku enggak tahu kenapa nasibku kok gini banget sih, Len? Apa aku enggak pantas buat bahagia?” ucapku tiba-tiba. Hingga tak kusadari ada air bening yang menetes dari sudut mataku.

Alena menatapku lekat. Sementara aku hanya menunduk. Alena seolah tahu persis dengan apa yang tengah menari di pikiranku.

“Lis, semua orang tua itu pasti mengharapkan yang terbaik buat anaknya, termasuk Mama kamu. Mungkin, ada hal yang pernah terjadi pada Mama kamu dan Mama kamu berharap anak-anaknya tidak akan pernah mengalami apa yang pernah dialaminya,” ucap Alena panjang lebar.

“Tapi, enggak seperti ini juga kan Len? Aku tuh bukan cewek matre. Kenapa sih Mama selalu menilai orang dari materi?” protesku.

Alena hanya terdiam.

Kalau boleh jujur, sebenarnya aku malu dengan kehidupan ini.Orang-orang selalu memandangku cewek matre. Padahal aku tidak seperti itu. Siapapun pria yang mendekatiku, di kala hatiku sudah merasa nyaman, aku tak pernah memandang status sosialnya. Aku percaya, urusan materi bisa berubah kapan saja. Apabila seorang itu mau bekerja keras, tak pernah ada alasan untuk mengubah kehidupan ini.

Sebentar lagi usiaku memasuki angka 30. Beberapa teman sekolahku dulu sudah menikah dan bahkan sudah pada punya anak lebih dari satu. Sementara aku? Aku masih dalam kesendirian tanpa kepastian. Menanti seseorang yang tak tahu siapa yang kunanti.

Terkadang rasa sedih dan kecewa itu bercampur menjadi satu rasa yang tak lagi bisa kuungkapkan dengan kata. Apalagi jika aku mendapatkan undangan pernikahan, aku hanya mampu bertanya pada diriku sendiri : kapan giliranku? Pun disaat akhir pekan, aku sangat membencinya. Disaat hampir semua orang menghabiskan akhir pekan bersama yang tersayang, aku hanya menghabiskannya dan kesedihan yang tak berujung.

Adapula rasa iri mendatangiku. Setiap pagi atau sore melihat beberapa teman kerjaku diantar oleh kekasih atau suami mereka. Aku hanya bisa membayangkan dalam kekosongan.

Argh, semenyedihkan inikah nasibku?

Disaat aku tengah bercermin, aku memandang pantulan diriku sendiri. Aku bukan seorang perempuan buruk rupa. Meskipun tidak cantik, tapi aku juga tak punya wajah yang begitu buruk. Lantas, kenapa aku masih saja sendiri? Apa karena Mama? Menurutku itu bukan alasan. Seorang lelaki pasti memperjuangkanku jika benar-benar mencintaiku. Hmm, atau memang selama ini tak ada lelaki yang benar-benar mencintaiku?

Sederet tanya tanpa jawab memenuhi otakku. Tubuhku melemas,dan sejujurnya aku lelah dalam kesepian ini.

Aku mulai memikiran tawaran Alena kemarin. Tentang dia yang ingin mengenalkan aku pada temannya. Tidak ada salahnya kan jika aku mencobanya? Toh aku tak mungkin selamanya hidup dalam kesendirian seperti ini. Aku tak mau menua seorang diri.

“len?” panggilku ke Alena saat kami tengah makan siang bersama.

“Ada apa?” jawab Alena bertanya.

Aku menyiapkan hatiku terlebih dahulu sebelum aku bertanya pada Alena. Secara, aku tidak mau jika Alena sampai menertawakan aku. Kemarin aku menolaknya, sekarang aku menanyakannya. Plin-plan banget aku ini. Argh, sungguh memalukan.

“Hmm…” Aku mencoba memulai pembicaraan.

“Ada apa sih Lis?”

Jantungku tiba-tiba saja berdetak lebih kencang dari biasanya. Seperti seorang yang tengah dalam persidangan. Aku merasa tidak tenang,malu dan takut seolah bercampur menjadi satu. Padahal Alena ini kan sahabatku sendiri, kenapa aku bisa segugup ini?

“Bentar, aku mau ke toilet,” jawabku beralasan. Aku kemudian beranjak dari dudukku dan buru-buru pergi ke toilet. Di tengah perjalanan menuju toilet, aku bertabrakan dengan seorang pria. Aku nyaris terjatuh tapi dengan sigap dia menolongku. Dan mata kamipun saling beradu. Ada sesuatu yang diam-diam menyatu. Untuk beberapa detik, aku seolah melayang dalam angan yang tak kutahu jawabnya.

“Eh, maaf, Kamu tidak apa-apa?” tanyanya setelah sekian detik kami berada dalam satu dimensi lain.

“Enggak apa-apa kok,” jawabku sedikit gelagapan.

“Aries,” ucapnya memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangangannya.

Akupun membalas uluran tangannya. “Lis,” ucapku mantap.

Mungkin ini adalah jawaban dari Tuhan. Dalam kesepian hati, Tuhan menghadirkan seseorang yang sepertinya sesuai dengan kriteria Mama. Pertemuan tanpa disengaja di saat tengah makan siang di Restaurant Keluarga seolah menjadi jawaban atas penantianku.

Baca Juga : Lihat Dulu Perjuanganku, Setelah Itu Nilai Apa Aku Pantas Hidup Bersamamu

Aries Prihatmoko. Lelaki yang kukenal lantaran kami bertabrakan itu adalah seorang direktur dari perusahaan property. Dia yang awalnya membuatku minder, nyatanya dia meyakinkanku dengan keseriusannya. Dia berani datang ke rumahku, berkenalan dengan Mama yang awalnya mengacuhkannya. Tapi dia tak peduli, diapun tetap berani melamarku.

Dia berbeda. Iya, dia memang berbeda. Bukan lantaran dia kaya. Melainkan dia berani mengenalkan diri ke Mama di bulan pertama kami mengenal. Bahkan dia menunjukkan keseriusannya. Sungguh, semua adalah takdir yang tak pernah aku pikirkan.

“Lis, aku senang melihat kamu bahagia kayak gini,” ucap Alena yang menemaniku di kamar. Sementara seorang MUA dan beberapa asistentnya tengah meriasku.

Hari ini, aku menikah. Akhirnya,setelah sekian lama aku menantikan seseorang itu. Tuhan mengirimkan jodohnya di usiaku yang menginjak angak 30. tanpa pacaran, tanpa penolakan, aku akan segera mengakhir masa lajang  ini.

Hati yang selama ini sendiri dalam sepi akan berakhir hari ini. Esok yang ada hanyalah cerita bahagia. Cerita tentang Aries dan Liss.

“Akhirnya Len, akhirnya…” ucapku dan tanpa kusadari aku meneteskan air mataku.

Alena tersenyum. “Ini hari bahagia kamu Lis, plis usap air mata kamu! Hari ini kamu akan menikah dan kamu harus bahagia.”

“Itu pasti, Len!”

Alena menggenggam erat tanganku. Menguatkanku. Meskipun sejujurnya ada satu hal yang belum selesai dengan hidupku. Tentang dia, Dikolelaki yang pernah Mama tolak tapi dialah lelaki yang paling kucintai. Ingin sekali kuceritakan hal ini pada Alena, tapi aku takut. Aku takut hatiku goyah dan membatalkan pesta pernikahan ini. Aku tidak mau membuat keluarga besarku malu. Lagi pula, usia warning sudah menuntutku untuk segera mengakhiri status ini.

Ah, wajah itu. Tiba-tiba bayangnya menggodaku disaat Aries mengucapkan ijab qabul di depan penghulu. Sebisa mungkin, kuenyahkan bayangan itu. Meski pada akhirnya ragu menjadi penggoda yang hebat. Tapi seiring berjalannya waktu, aku yakin bayangan Diko akan benar-benar enyah karena Tuhan sudah mengirimkan Aries di dalam sepiku. Iya, Aries lelaki hebat yang berani meminangku. Lelaki pilihan Tuhan sebagai pelengkap hidupku.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel