Mencintai dengan Mengharap Ridho Allah SWT

Jodoh adalah misteri yang menjadi rahasia hingga sampai kita menemukan dan mengikatnya dalam ikatan pernikahan. Kita bahkan tidak mengetahui dengan pasti siapakah jodoh yang akan di kirim oleh Allah SWT kepada kita. Bahkan sering kali pada detik-detik akad pernikahan hendak dilangsungkan sekalipun, kita belum bisa menjamin bahwa nama yang tertulis dalam surat undangan pernikahan adalah jodoh kita. Ia bisa saja meninggal dunia sebelum akad nikah di langsungkan atau ada penghalang lainnya yang menjadikan pernikahan itu batal.

Kita bisa mengatakan bahwa ia adalah jodoh yang telah dikirim oleh Allah SWT untuk hidup bersama kita dalam bahtera rumah tangga, manakala akad nikah telah selesai dilakukan. Maka resmilah kita sebagai pasangan suami isteri yang sah dan akan mengarungi suka dan duka kehidupan yang datang silih berganti. Jodoh tidak selamanya harus ‘’cocok’’, karena kecocokan yang kita kedepankan adalah kemauan kita sendiri, selaku manusia yang banyak memiliki kelemahan, pada akhirnya Allah SWT jualah yang menentukan.


Sebagai manusia biasa dan lemah, tentu kita sangat banyak kekurangan-kekurangan. Begitu pula dengan seorang suami atau isteri, setiap kelebihan dan kekurangan yang dimiliki setiap pasangan harus saling menjaga dan menutupi serta melengkapi, dipadukan untuk membentuk kekuatan untuk semakin saling mencintai, mengasihi dan menyayangi dan bukan untuk saling melemahkan.

Inilah seninya sebuah kehidupan menjadi pecinta sejati dalam Islam, Agama yang di ridhoi Allah SWT. Mengelola perbedaan agar menumbuhkan sebuah keindahan dalam hidup berumah tangga. Mengkombinasikan setiap perbedaan dan persamaan untuk membentuk sebuah kekuatan cinta yang lebih besar dan dahsyat. Sehingaa terciptanya bangunan rumah tangga yang kokoh karena dasar cinta, kasih sayang dan pengertian.

Pada zaman khallifah Umar bin Khattab Ra, seorang suami hendak menceraikan isterinya yang pesona kecantikannya kian meredup dan membuat gairah cinta kepada isterinya mulai memudar seiring berjalannya waktu.

Lalu Umar bin Khattab Ra menasehatinya dengan perkataan
‘’Sungguh amat jelek niatmu ini, apakah sebuah rumah tangga hanya dapat terbina dengan cinta? Dimana taqwa dan janjimu kepada Allah SWT ? Dan dimana pula rasa malumu kepada-Nya ? Bukankah engkau sebagai pasangan suami isteri, telah saling bercampur dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil sebuah perjanjian yang kuat?’.

Nasehat dari Umar bin Khattab ra tersebut menegaskan bahwa pondasi paling utama yang harus dibangun dalam mahligai rumah tangga adalah mencinta karena Allah SWT, bukan mencintai karena sebatas hawa nafsu semata. Sebab cinta karena Allah SWT akan melahirkan dan menumbuhkan ketaqwaan, yang menjadikannya hati-hati dalam mengarungi samudera hidupan dalam rangka ketaatan kepada Allah SWT.

Cinta karena Allah SWT akan melahirkan rasa malu, yaitu malu untuk berbuat maksiat, menjaga lisan, menahan amarah, tidak berlaku kasar serta aniaya terhadap pasangan. Dan cinta kepada Allah SWT menjadikan seseorang selalu teringat dan terikat untuk memenuhi janji-janjinya kepada Allah SWT. Salah satunya adalah memperlakukan isteri atau suami sesuai dengan hukum dan syariat sebagai sebuah konsenkunsi diperbolehkannya mencampuri dan menggauli secara halal.

Sementara itu, cinta karena hawa nafsu akan menghilangkan ketulusan, saling pengertian dan menjaga perasaan dalam bangunan pernikahan. Kenikmatan pernikahan hanya sebatas terpenuhinya kebutuhan hawa nafsu secara sunnatullah, pada puncak dan akhirnya akan menurun dan memudarkan kasih sayang dalam rumah tangga karena sudah mulai mengalami kebosanan lantaran di dasarai hawa nafsu semata.

Jika hawa nafsu tidak menemukan ‘’kenikmatannya’’, maka ia akan mencari ‘’jalan-jalan’’ lain dengan perselingkuhan, perceraian dan pernikah lagi, dan hal yang demikian itu akan seperti itu seterusnya. Selama tuntutan hawa nafsu itu tidak akan terpuasakan hingga ia berpisah dari jasadnya.

Hanya cinta karena Allah SWT sajalah yang akan selalu menjaga rumah tangga menjadi tentram, aman, nyaman dan damai. Ibarat sebuah pohon, ia merupakan pohon dengan akar yang kokoh menghujam ke dalam bumi, cabangnya menjulang tinggi ke atas langit, dan buahnya memberikan kenikmat dan kelezatan dan terus-menerus berbuah sepanjang musim.

Dengan dasar cinta hanya karena Allah SWT maka ada jalan keluar dari tiap-tiap permasalahan yang ada dalam bingkai kehidupan berumah tangga yang didasari dengan cinta dan keimanan. Itu tidak akan menjadikan sebuah masalah yang ‘’besar’’ karena dengan keimanan jiwa-jiwa akan menjadi lapang dan tidak terjebak dalam hawa nafsu yang selalu memicu keretakan hubungan di dalam rumah tangga, karena mereka akan berkata Allah SWT itu maha ‘’Besar’’, tidak sebanding dengan masalah yang datang silih berganti.

Baca Juga : Al Quran Sebagai Petunjuk Pernikahan

Alangkah baiknya untuk menjaga dan merawat bahtera pernikahan, suami dan isteri selalu mengingat-ingat setiap kebaikan-kebaikan dari masing-masing pasangannya. Tanpa kebaikan seorang suami, bisa jadi nafkah yang didapat dan diberikan oleh suami setiap bulannya kepada sang isteri tidak akan pernah cukup, sebaliknya tanpa kebaikan seorang isteri, kasih sayang yang diberikan kepada suami tidak akan memenuhi ‘’rasa sayang’’ terhadap suaminya.

Jika seorang suami merasa penghasilannya belum mencukupi kebutuhan isteri, apalagi jika seorang isteri tersebut harus membanting tulang dan memeras keringat dalam membantu suami mencari nafkah, maka selayaknya setiap suami harus berkaca dari kelemahannya itu demi menumbuhkan penghargaan terhadap sang isteri belahan hati dan separuh jiwanya. Tentu saja, sang isteri juga harus memahami bahwa dengan posisi lebihnya itu ia tidak bisa memperlakukan suami dengan perlakuan yang tidak baik, baik perkataan maupun perbuatan. Karena seorang isteri dianjurkan untuk taat kepada sang suami demi mendapatkan keridhoannya.

Maka dari itu, dengan mendasarkan rasa cinta kita kepada Allah SWT, dari mula kita memasrahkan diri pada apa yang terjadi atas ketetapan dan kehendak Nya, semua kebaikan semata-mata datang dari Allah SWT, semua ujian yang diberikan Allah SWT kepada kita untuk menguji seberapa kuat keimanan ini. Perbaikilah rasa cinta kita dengan memperbaiki dan meningkatkan keimanan kepada Allah SWT, niscaya kita akan selalu dalam kegembiraan dan kebahagiaan dalam mahligai rumah tangga.

Menikah bukan karena harta, karena harta akan habis.
Menikah bukan karena jabatan, karena tiba masanya ia akan turun.
Menikah bukan karena paras, karena ia akan menua.
Menikah bukan karena iba dan kasihan, karena ia memerlukan ketulusan
Menikah bukan karena terpaksa, karena cinta harus saling menerima
Menikah karena Allah SWT dan Rasulullah SAW, akan membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat

Rasulullah SAW bersabda

‘’Tidak pernah ditemui pada kedua orang yang saling mencintai sesuatu yang lebih indah dari pada sebuah pernikahan’’ (HR. Ibnu Majah)

‘’Jika datang kepadamu seorang pelamar putrimu yang kamu ridhoi akhlak dan agamanya maka nikahkanlah, jika tidak akan terjadi fitnah (bencana) di muka bumi dan kerusakan yang luas’’ (HR. Ibnu Majah)

‘’Barang siapa dimudahkan menikah tetapi tidak mau menikah, maka tidaklah ia termasuk golonganku’’ (HR. Tabrani dan Baihaqi)

‘’Pernikahan yang sangat paling besar keberkahannya itu ialah yang paling mudah maharnya’’
(HR. Ahmad)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel