Pernikahan Ini Akhirnya Dibatalkan, Karena Hadirnya Dirimu

Aku seorang wanita yang berasal dari keluarga yang biasa, dan tempatku berasal amat sangat kuat berpengang teguh pada agama dan adat istiadat. Aku merupakan anak kelima dari tujuh bersaudara. Ke empat saudara diatas ku sudah menikah dan dua adik adik ku masih sekolah. Pekerjaan ayahku hanya sebagai petani dan mengurus hewan ternak, sementara ibuku hanya dirumah saja untuk mengurus segala pekerjaan dan menyiapkan segala kebutuhan.

Semenjak aku masih duduk dibangku SMA, ayahku telah sakit sakitan namun ia masih memaksakan diri untuk bekerja agar aku bisa menyelesaikan pendidikanku dan juga kedua adik ku, walau pendidikanku tak sampai ke jenjang Universitas. Namun dengan melihat perjuangan ayahku, tentu aku ingin membalas semua kebaikannya kepadaku, sekalipun gunung itu menjadi emas maka belum bisa terbayar jasa jasa kedua orang tuaku.


Melihat kedua adik ku tumbuh besar, dan ayahku masih bersemangat bekerja walau kadang dalam keadaan sakit, ini membuat hatiku bergetar dan tergerak untuk ikut membantu perekonomian keluarga, terutama mencari biaya untuk berobat ayahku dan pendidikan adik adik ku.

Kampungku ini sangat jauh dari perkotaan, kebanyakan kehidupan orang disini bergantung pada hasil pertanian, perkebunan, peternakan dan perikanan. Bahkan untuk mendapatkan sinyal telepon harus naik ke bukit yang tinggi sekalipun. Kampungku ini masih terjaga ke indahan alamnya, mulai dari perbukitan, pohon pohon yang besar, dan aliran sungai sangat jernih airnya, bahkan mandi di siang hari airnya masih sangat dingin hingga menusuk ke dalam tulang.

Ayah dan ibuku merasa sangat senang atas kelulusanku menempuh pendidikan dan mendapatkan ijazah SMA, begitu juga dengan kedua adikku mereka bergembira menyambut kelulusan ini. Dengan kegigihan kedua orang tuaku tanpa kenal lelah aku ingin menjadikan ijazah ini berguna bagi mereka.

Dengan niat yang kuat bahwa setelah ini aku harus mencari dan mendapatkan pekerjaan maka aku memberanikan diri untuk meminta izin kepada ayah dan ibuku untuk mencari pekerjaan jauh dari kampungku dalam artian merantau. Sebagai anak perempuan tentu ini akan membuat orang tua cemas, karena mereka berada jauh dari anaknya. Banyaknya pertimbangan pertimbangan akhirnya aku di izinkan untuk merantau, dan ini kali pertama aku jauh dari ayah dan ibuku, karena aku akan menempuh ini sendirian.

Malam itu juga semua perlengkapan sudah ku persiapkan, mulai dari pakaian yang akan ku bawa serta tak lupa ijazah yang telah susah payah di perjuangkan oleh kedua orang tuaku selama proses mendapatkannya. Aku bahkan malam itu tidak bisa tidur sama sekali, karena selalu terfikirkan keadaan kedua orang tuanku terutama ayahku.

Hingga tibalah waktunya aku berangkat untuk meninggalkan rumah, ketika mobil yang akan membawaku pergi jauh merantau telah datang dan berhenti di depan rumahku, aku melihat kesedihan yang disembunyikan dari wajah mereka (orang tuaku), ketika hendak berpamitan ayah memanggilku ‘’nak ini ada sedikit uang untuk bekalmu di perantauan, jangan hiraukan dan cemaskan ayah disana, ayah disini baik baik saja’’. Itulah ucapan yang disampaikan oleh ayahku ketika aku hendak pergi. Pesan itu aku ingat baik baik bahwa aku tidak boleh menjadi orang yang lemah di perantauan.

Perjalanan ini akan terasa sangat lama, karena kota yang menjadi tempat perantauanku membutuhkan waktu hingga delapan belas jam lamanya, dalam perjalanan ini ternyata juga ada seorang wanita yang juga sama tujuannya denganku yaitu mencari pekerjaan di perantauan. Setelah perbincangan yang sangat lama maka kami putuskan untuk mencari satu tempat tinggal yang sama, agar di perantauan nanti kami tidak lagi mencari teman.

Singkat cerita, tibalah kami di kota Perantauan, dan tempat kami tuju adalah pusat keramaian seperti mal, pasar dan toko toko agar tidak terlalu sulit nantinya dalam mencari dan mendapatkan pekerjaan. Tak butuh lama bagi kami untuk mencari tempat tinggal atau kos. Walau tempat kosan kami hanya untuk dua orang saja, tak ada yang istimewa dari kos ini, tidurpun kami hanya menggunakan tikar dan bantal yang di berikan oleh pemilik kos.

Dengan bekal yang di miliki termasuk uang yang di bawa selama perantauan, aku harus benar benar menggunakannya sebaik mungkin, agar bekal ini tidak habis saat aku masih mencari pekerjaan. Hari pertama di perantau aku bersama dengan temanku belum mendapatkan pekerjaan hingga hari kelima.

Baca Juga : Tanda Tanda Wanita Menolak Untuk Melanjutkan Hubungan Dengan Pria

Sebagai seorang wanita yang jauh dari keluarga tentu ini membuat kegelisahaan dihatiku, aku belum mau menghubungi mereka di kampung sebelum aku mendapatkan pekerjaan, semua ini ku lakukan semata mata agar mereka tidak risau dan khawatir dengan keadaan aku di perantauan terutama ayahku yang aku tau bahwa ia dalam keadaan sakit.

Hari ke enam dalam perantuanku, kami masih gigih untuk mencari dan memasukkan berkas berkas lamaran di tiap tiap tempat yang kami singgahi sambil berharap dan berdoa di dala hati ‘’semoga aku segera diterima dan bekerja’’. Seperti biasa sebelum maghrib tiba kami sudah harus kembali pulang ke kos, agar pulang tidak terlalu malam.

Sesampainya di kos aku langsung menuju kamar tidur untuk mengambil handuk untuk segera mandi sebelum adzan mahrib di kumandangkan. Dalam perantuan aku tak pernah melupakan ibadah kepada tuhan ku begitu juga temanku, mesjid berada tidak jauh dari kosan kami. Dan kami selalu melakukannya dengan cara berjamaah di mesjid. Hingga selesainya solat maghrib kami tetap berada di mesjid sambil menunggu waktu isya tiba.

Entah kenapa perasaan aku sangat berbeda kali ini, doa yang kupanjatkan hingga membuat aku menanggis di hadapan Tuhan ku ‘’ Ya Rab, tidak ada manusia yang tidak engkau berikan ujian dan cobaan, ringankanlah sedikit saja ujian bagiku untuk mendapatkan pekerjaan, sesugguhnya aku ingin mengabdi kepada kedua orang tuaku sebelum mereka pergi salah satu atau keduanya’’. Doa ini juga sama ku panjatkan setelah berakhirnya ibadah solat isya.

Sepulangnya dari mesjid barulah kami makan itupun dengan makanan seadanya, tak penting sambal apa yang kami makan, yang terpenting bisa menghilangkan rasa lapar di perut kami walau hanya sebungkus mie insant. Dan minuman yang kami minum menghilangkan dahaga kehausan di kerongkongan kami.

Jam dinding menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, badan yang lelah ini membuat kami untuk segera beristirat tidur, ketika hendak tidur aku biasanya mengambil telpon genggamku yang sedang di cas diatas pakaian pakaiannku. Seketika itu juga aku melihat ada satu pesan yang belum dibaca, setelah dibuka ternyata itu pesan dari salah satu tempatku melamar pekerjaan yang juga sama dengan temanku, ya besok aku akan di undang untuk mengikuti tahap interview dan temanku juga mendapatkan undangan yang sama.

Toko kue ini seakan akan memberikan ku setitik cahaya harapan untuk bisa membantu kedua orang tuaku, semoga esok pagi tidak ada halangan untuk mengikuti interview dan mudah mudahkan aku bisa diterima bekerja, begitu juga dengan temanku.

Sesuai dengan undangan bahwa kami harus datang pukul sebelas siang, maka kami datang tiga puluh menit sebelum di adakannya interview, setibanya kami di Toko kue tersebut kami di persilahkan dulu duduk untuk menunggu panggilan, dan yang hadir saat itu baru kami berdua saja, hingga berlalunya waktu ada sekitar enam orang yang mengikuti interview hari itu.

Temanku mendapat giliran pertama untuk mengikuti interview, dan ini kali pertamany aku berada dalam situasi dan keadaan seperti ini, jadi masih kaku dan penuh perasaan tegang. Setelah lima belas menit berlalu maka iapun keluar dari ruang interview, hingga di panggillah pelamar lain, sampai tiba waktuku, karena yang kelima dipanggil adalah diriku.

Aku hanya dapat berdoa dalam hati ‘’Ya Rab, tolong mudahkan semua ini, jika ini menjadi rezeki bagiku maka biarlah ia menjadi milikku’’. Sungguh aku dalam situasi yang tidak biasanya, karena ini menjadi penentuan untuk aku diterima bekerja atau tidak, semua pertanyaan pertanyaan yang disampaikan oleh HRD tersebut telah ku jawab semuanya dan akupun telah menyelesaikan tahap interview ini, ketika aku hendak keluar meninggalkan ruangan , sang HDR lalu memanggilku dengan tersenyum lalu berkata ‘’Selamat kamu diterima bekerja disini dan besok sudah bisa dimulai’’.

Mendegar kalimat seperti itu tentu saja perasaan yang tadinya cemas dan penuh kegelisahan hilang dan lenyap seketika itu juga, aku tidak sabar untuk memberitahu kepada ayah dan ibuku, namun aku masih menyimpan perasaan senang ini karena aku tidak tahu apakah temanku ini juga diterima atau tidak, karena dia juga tidak ada bercerita apapun tentang interview ini.

Dalam perjalanan pulang aku iseng bercerita kepada temanku, Toko Kue itu tempatnya nyaman ya, kalau kita diterima bekerja disana pasti rasanya akan sangat senang sekali, dan sepertinya temanku ini paham dengan arah dan tujuan cerita ini, sehingga iapun bertanya, bagaimana interview kamu tadi apakah diterima ?, lalu aku menjawab ‘’aku diterima dan besok sudah bisa mulai bekerja, bagaimana denganmu ?’’, ia lantas menjawab ‘’bukan hanya perjalanan dari kampung ke kota dan kosan yang sama, tempat kerja kita pun sama, aku juga diterima’’.

Hari pertama kami bekerja dengan pakaian kemeja putih dan celana panjang atau rok hitam dengan di bimbing oleh karyawan lainnya yang lebih dulu bekerja disini, walau kami berdua tampak canggung karena baru pertama kalinya bekerja, namun semua kami kerjakan dengan penuh kesenangan, setidaknya kami tidak risau dengan keadaan kami sebelumnya yang masih mencari cari pekerjaan.

Satu bulan sudah kami bekerja, seperti karyawan lainnya maka ini adalah waktunya kami untuk menerima gaji, kami menerika gaji tidak sama besarnya dengan karyawan lain, karena kami termasuk dalam masa ‘’Training’’ namun gaji ini sudah cukup bagi kami berdua. Sepulangnya dari tempat bekerja aku lalu menelpon orang tua ku, jika saat itu tidak ada sinyal disana maka aku mengirimkan pesan singkat atau sms.

Tiga bulan berlalu, maka resmilah kami berdua menjadi karyawan di Toko Kue tersebut, dengan seragam kerja yang lengkap, mulai dari topi, baju dan celana. Dari setiap gaji yang ku terima tak pernah lupa aku sisihkan untuk dikirim kepada orang tuaku dikampung yang mana uang tersebut aku kirim melalui pos.

Masuk bulan ke enam aku bekerja, hampir setiap hari aku mendapatkan sms dan jika keadaan dan situasi menghawatirkan maka keluargaku di kampung akan menelepon dan mengabarkan bahwa ayah saat ini sedang sakit parah dan memintaku pulang untuk menemui ayah. Ayahku mengidap sakit paru paru, yang selama ini hanya berobat di puskesmas yang ada di kampungku.

Kamis sore itu sebelum pulang aku menemui HRD ditempatkan ku bekerja untuk minta izin selama tiga atau empat hari untuk pulang ke kampung halamanku, dan ternyata izin itu diberikan. Dengan izin itu maka untuk sementara temanku ini sendirian dulu di kos hingga datangnya aku kembali.

Malam itu aku pulang ke kampung menggunakan travel, seperti biasa menghabiskan delapan belas jam waktu perjalanan, sesampainya di rumah aku disambut oleh ayahku yang saat ini sedang duduk diteras rumah dengan menikmati secangkir kopi, tak ada terlihat sakit di wajah ayah saat itu ketika aku peluk dan cium kedua pipinya sambil menangis. Namun di meja itu ku lihat ada tiga plastik obat berwana biru yang biasa ayah minum.

Ayah lalu membawaku masuk ke dalam rumah dan bercerita tentang keadaan dirinya ‘’Belakangan ini sakit ayah semakin parah, bahkan membuat ayah tidak bisa bekerja, jika ayah paksakan maka dada ayah semakin sesak, ayah sebenarnya tidak ingin memberitahumu tentang hal ini, agar kau di perantauan tidak mencemaskan keadaanku nak’’

Sebelum semuanya ini menjadi terlambat ayah berpesan kepadamu ‘’Segeralah cari laki laki yang bisa menggantikan posisi ayahmu untuk menjaga, mencintai dan menyayangimu, jika umur ayah panjang, ayah ingin menikahkanmu’’. Mendengar perkataan itu tentu membuat hatiku menjadi bercampur aduk, disisi lain aku belum siap untuk menikah, dan di sisi lain aku ingin membahagiakan ayahku.

Tiga hari sudah berlalu dan aku harus segera kembali ke perantuan karena lusa aku sudah harus bekerja. Itulah yang selalu menghiasai di fikiranku, baik selama perjalanan maupun ketika sedang bekerja ‘’Aku harus segera menikah’’. Ada kenalanku seorang pria melalui jejaring sosial facebook, lantas pria ini mengenalkan aku dengan temannya, sebut saja namanya ‘’Roy’’.

Perkenalan kami yang hanya melalui facebook lalu berlanjut di whatsapp, dan ternyata ‘’Roy’’ ini juga berasal di daerah yang sama denganku, hanya berbeda kabupaten saja. Selama berkomunikasi kami hanya melalui telpon dan sesekali menggunakan video call.

Hingga berjalannya waktu, kami saling ada perasaan satu sama lainnya, hubungan ini hanya kami lakukan lewat jarak jauh tanpa pernah bertemu sekalipun. Namun disini aku sampaikan perkataan yang serius ‘’Ini hubungan bukan sekedar hubungan biasa, karena aku ingin hubungan ini berlanjut ke tahap yang lebih serius yaitu pernikahan, saat ini ayahku dalam kedaan sakit, bukan berarti aku terpaksa untuk menikah, karena masih ada kesempatanlah selagi aku bisa berjumpa dengan ayahku’’.

Ternyata ‘’Roy’’ menyanggupi permintaanku, selang satu tahun bekerja di Toko Kue tersebut aku meminta izin lagi selama seminggu untuk menemui orang tua dan pria yang bersedia untuk menikah denganku yaitu ‘’Roy’’.

Aku telah memberi kabar jika aku ingin pulang, dan setelah dirumah aku ingin kita bertemu, terjadilah pertemuan ini ‘’Roy’’ datang datang dan berkunjung dengan tempat yang telah disepakati sebelumnya walau belum aku bawa kerumah dan aku kenalkan dengan orang tuaku, karena aku masih memastikan apakah dia benar benar serius.

Dalam pembahasan ini ia sudah tau keadaanku, bahwa aku bekerja di perantauan dan ayahku sedang sakit, lalu ‘’Roy’’ meminta waktu agar benar benar siap untuk menjalani pernikahan ini, dan waktu itu tidak pernah dia berikan kepastianny kapan.

Aku masih belum mau bercerita kepada keluargaku tentang ‘’Roy’’ agar nanti tidak ada kekecewaan jika dia tidak benar benar serius untuk jadi menikahiku. Ternyata kabar ini sampai ke saudara saudaraku bahwa ayahku ingin segera aku menikah, bahkan mereka telah menyiapkan calon bagiku yang telah siap lahir bathin. Aku juga merahasiakan hal ini dari ‘’Roy’.

Tanpa ku duga, calon yang akan di jodohkan oleh saudara saudaraku ini datang berkunjung kerumah, untuk menemui orang tuaku dan termasuk aku sendiri, dari perkenalan itu ternyata orang tuaku menyukai pria tersebut, lantas bertanya kepadaku ‘’Nak ini ada laki laki yang ingin melamarmu, apakah kau suka dengan pria ini ? ayah menantikan jawaban darimu’’, akupun menjawab ‘’Ayah tolong beri aku waktu untuk berfikir (karena dalam hati ini aku berharap ‘’Roy’’ segera memberi kepastian), baiklah nak kata ‘’Ayahku’’.

Kembalinya aku ke Pekerjaanku, tak henti hentinya aku selalu menghubungi dan menanyakan hal tersebut kepada ‘’Roy’’ di selang selang aku sedang tidak sibuk bekerja, terkadang wahatsapp ku di balas hingga berjam jam kemudian, jawabannya masih sama yaitu ‘’minta waktu’’.

Aku seperti berpacu dengan waktu karena keadaan ayahku yang semakin parah, hingga kali ini aku putuskan untuk berhenti bekerja dan pulang ke kampung halamanku, hampir tiga bulan sudah aku tidak bekerja lagi, namun ayahku tak kunjung sembuh, melihat tingkah laku ‘’Roy’’ yang tidak ada memberi kejelasan dan kepastian maka aku menerima pinangan pria yang datang berkunjung kerumah waktu itu.

Mendapat kabar itu, pria yang melamarku memberi kabar kepada keluarga dan saudara saudaranya agar datang beramai ramai ke rumahku untuk melangsungkan lamaran secara adat istiadat. Dari lamaran ini jelas sudah kedua keluarga kami sudah saling bertemu, dan bersepakat, bahkan sudah menentukan bulan, hari dan tanggal pernikahan`.

Setelah acara lamaran selesai, bagai petir yang menyambar di siang bolong si ‘’Roy’’ menelponku dan bertanya soal pernikahan itu, apa hendak di kata aku sudah di lamar orang dan lamaran itu sudah diterima, dan aku harus jujur kepada ‘’Roy’’. Dan ternyata dia tidak bisa menerima dan dia menginginkan semuanya itu batal.

Selang beberapa hari ‘’Roy’’ datang kerumah dan memohon kepada kedua orang tuaku agar lamaran dan pernikahan itu di batalkan, aku saat itu tidak bisa berbuat apa apa, karena aku hanya melihat di balik tirai pintu kamar, karena aku sudah tidak diperbolehkan keluar rumah hingga tibanya hari pernikahan.

Aku mendengar suara ayahku memanggil namaku untuk keluar dari kamar, ketika aku keluar dari kamar aku melihat ‘’Roy’’ dengan air mata yang membasahi kedua pipiny, ‘’Anakku aku telah melihat pria ini, dan dia memohon dan meminta kepada Ayah agar pernikahan ini di batalkan, pria ini sepertinya sangat mencintaimu, apakah kau juga mencintainya ?’’, dengan melihat keberanian ‘’Roy’’ untuk mendatangi kedua orang tuaku dan sebenarnya aku memang berharap untuk bisa menikah dengannya, lantas aku jawab ‘’aku mencintainya ayah’’.

Baca Juga : Ketika Aku Telah Siap namun Tak Ada Seorang Wanita pun yang Ingin Menikah Denganku 

Tak butuh waktu lama, hari itu juga ayahku memutuskan bahwa pernikahan itu dibatalkan, dan kami akan langsung berkunjung kerumah pria yang sudah melamar untuk menyampaikan permohonan maaf karena dibatalkannya pernikahan ini.

Ayahku berkata kepada ‘’Roy’’, pernikahan ini telah kami batalkan sekarang penuhilah janjimu untuk menikah dengan anakku, aku sudah tidak kuat lagi menahan rasa sakit ini, sebelum semua ini terlambat.

Waktu terus berlalu tapi tidak ada tanda tanda bahwa ‘’Roy’’ akan datang membawa keluarganya untuk segera melamarku, dirumah aku selalu ditanya,kapan ‘’Dia’’ akan datang membawa keluarganya ? karena ini sudah dua minggu sejak pernikahan itu dibatalkan, akupun hanya bisa diam tanpa ada jawaban apapun.

Baca Juga : Cinta Bertepuk Sebelah Tangan? Berhenti Lakukan, Buang-Buang Waktu!

Hal yang tak pernah ku inginkan terjadi juga, ayahku meninggal dunia sebelum aku menikah, dan ini menjadi beban dan penyesalan seumur hidup bagiku, aku lupa bahwa tidak ada jaminan manusia untuk bisa hidup besok, aku telah termakan dan terbuai janji janji manis ‘’Roy’’, aku telah membuat malu keluargaku, aku telah menyia nyiakan orang yang telah siap lahir bathin menikahiku. Semua ini telah terjadi, sesal tiada guna lagi, ayahku takkan bisa hidup kembali. Dan akupun batal melangsungkan pernikahan karena hadirnya dirimu ‘’Roy’’.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel