Putri Dewi Sartika, Terima Kasih Telah Mempermainkan Perasaanku, Semoga Engkau Mendapatkan Kebahagiaan Yang Kau Inginkan

“Put, nanti bisa ketemu enggak? Aku mau bilang sesuatu sama kamu!” ucapku ke seberang sana. Kali ini aku ingin segera mengabarkan berita gembira ini kepadanya dan aku sudah tidak sabar ingin melihat seutas senyumannya saat mendengar kabar gembira ini.

Iya, aku mungkin terlalu percaya diri. Aku seperti ini lantaran aku sangat mengenal Putri dan bertahun-tahun sudah aku berjuang demi mendapatkan semua ini. Perjuangan yang tak mudah bagiku. Aku bahkan mengorbankan segalanya.


“Put…” panggilku dan memastikan dia masih mendengarkan aku di seberang sana.

“I… Iya,” jawabnya singkat.

Aku mengerutkan kening. Sebenarnya banyak tanya yang tak bisa kujawab namun aku takut menanyakan pada Putri. Aku takut dia akan salah paham terhadapku. Yah, sedari SMA aku mengenal Putri hingga usiaku sekarang menginjak angka 30, jadi aku sangat paham betul bagaimana watak pujaan hatiku itu.

“Kamu sakit?” tanyaku menebak.

“Enggak kok, aku enggak apa-apa!” jawabnya.

“Hmm… apa aku nanti jemput kamu saja? Aku takut terjadi apa-apa sama kamu!” aku menawarkan diri.

“Enggak kok, Ji. Aku enggak apa-apa. Nanti kita ketemu di tempat biasanya aja, yah? Sepulang kerja. Sekarang aku mau lanjutin kerjaanku dulu!”

Dan sedetik kemudian…

Tut, tut, tut…

Telepon di seberang sana mati, tak biasanya Putri seperti ini. Biasanya sebelum menutup teleponnya dia akan meninggalkan pesan terhadapku, seperti : jangan lupa makan, jangan lupa sholat, jangan capek-capek sampai dengan memberiku kecupan, emmuach. Tapi kali ini? Dia seolah tidak suka mengangkat telepon dariku. Padahal apa yang akan kusampaikan nanti adalah hal yang selama ini dinantinya. Hal yang akan mengantarkan kami pada puncak kebahagiaan, yaitu pernikahan.

Sepuluh tahun sudah aku menjalin hubungan dengan Putri. Padahal aku mengenalnya semenjak kami masih duduk di bangku SMA. Aku jatuh cinta padanya sedari pandangan pertama. Sedari kita dihukum bersama saat MOS. Saat itulah aku mengenal namanya Putri Dewi Sartika. Nama yang cantik seperti orangnya. Iya, secantik putri-putri dalam cerita dongeng.

Baca Juga : Suamiku Susah Diajak Ngobrol, Tapi Dia Adalah Suami Terbaik Bagiku

Yang membuatku lebih bahagia lagi adalah saat kutahu kami satu kelas. Tapi sayang, kami tidak terlalu dekat. Aku terlalu minder dengan posisiku, siapa aku ini? Cowok culun anak orang tak punya yang didekati teman-teman saat ada ulangan dan saat ada PR saja. Selebihnya? Aku hanya tikus got yang tak pernah dipandang.

Sementara Putri? Dia gadis yang cantik, ramah dan anak orang berada. Bahkan dia tergolong anak gaul yang menjadi idola para cowok di sekolahku. Bukan hanya idaman cowok-cowok seangkatan saja, tapi juga jadi idaman  kakak kelas.

Hmm, kalau aku tak salah mengingat, sewaktu SMA si Putri sudah lebih dari 3 kali berganti pacar. Tapi aku sih tak mengapa toh hanya cerita SMA, hanya cinta monyet penyedap kisah. Yang penting sekarang Putri sudah menjadi pacarku dan sebentar lagi menjadi isteriku. Jadi, untuk apa aku mempermasalahkan masa lalunya.

Dan bisa mendapatkan Putri bukanlah hal yang mudah bagiku. Kala itu, 2 tahun setelah lulus, angkatan kami mengadakan reuni dan saat itulah aku kembali bertemu Putri. Dan pertemuan kali ini lebih baik dari pertemuan pertama dulu. Setidaknya kali ini Putri lebih ramah terhadapku, pun dengan teman-teman yang lainnya.

Mungkin, karena aku bukanlah cowok culun seperti dulu. Bukan hanya penampilanku saja yang berubah, tapi aku juga mampu mengukir prestasi yang membuat SMA ku menjadi SMA favorit. Aku bukan saja peraih peringkat satu, tapi aku juga penyumbang piala di setiap lomba cerdas cermat yang aku ikuti. Dan di universitas tempat aku kuliah, aku peraih IPK tertinggi serta menjabat sebagai ketua BEM yang dikenal mahasiswa-mahasiswa dari universitas lain. Aku punya nama…

Yang aku ingat dengan jelas, kala itu Putri banyak bertanya tentangku. Hingga akhirnya akupun memberanikan diri bertanya juga tentangnya. Tapi raut kepedihan yang menjadi jawabannya. Putri yang dulu sering kulihat menampakkan senyumannya, kala itu dia membiarkan kedua mataku melihatnya menangis.

Aku menjadi serba salah, ingin sekali kuhapus air mata yang membasahi wajah ayunya. Sayangnya, nyaliku terlalu menyiut. Sementara untuk bertanya mengapapun aku tak sanggup. Hingga akhirnya aku hanya membiarkannya dan diapun menceritakan semuanya. Menceritakan akan lukanya, akan dia yang begitu mencintai Dimas tapi sayangnya Dimas telah menghianatinya dan meninggalkannya begitu saja.

Semenjak saat itu, akupun berjanji pada diriku sendiri untuk selalu membahagiakannya. Hingga beberapa bulan kemudian Putri memberiku kesempatan untuk menjadi kekasihnya dengan beberapa syarat. Aku harus mengikuti gaya hidupnya dan memenuhi ‘hampir’ semua keinginannya. Hingga akhirnya nilaiku menurun lantaran aku sering menemani hari-hari Putri. Tapi apa boleh buat, inilah konsekuensinya.

Belum lagi soal keuangan, menjadi kekasih Putri bukan hanya harus mengorbankan banyak waktu, tapi juga materi. Sementara uang jajan dari orang tuaku pas-pasan. Akupun akhirnya memilih mencari pekerjaan dan tak lagi aktif di BEM hingga posisiku digantikan oleh mahasiswa lain.

Argh, aku tak ingin lagi mengingat semuanya, cukuplah jadi cerita. Yang terpenting aku bisa mewujudkan permintaan Putri dan segera melamarnya.

Cafe Cerita, pukul 20.00 WIB

Sepulang dari kantor, aku langsung ke Cafe Cerita. Kafe langganan aku dan Putri sedari awal kami berpacaran. Dan yah, seperti namanya, kafe ini banyak menyimpan cerita tentang aku dan Putri. Entah itu cerita yang membahagiakan maupun menyedihkan. Menyimpan tawa dan juga kecewa.

Baca Juga : Menanti Datangnya Cintamu di Dalam Sepinya Hati Ini

Begitupun menyimpan cerita putus nyambung kami.  Yah, selama 10 tahun itu kami sempat mengalami yang namanya putus nyambung, tapi mungkin sudah menjadi takdir untuk kami bersama. Selalu ada saja jalan untuk berjumpa dan Putri selalu memberi kesempatan untukku menjadi kekasihnya.

Seperti biasa, aku harus menunggu Putri. Tak mengapa.

Hampir satu jam aku menunggunya dan Putri-pun datang.

“Sorry yah, udah lama nunggunya?” tanyanya lalu duduk di kursi yang ada di depanku. Dan ada yang berbeda, biasanya dia mengecup pipiku terlebih dahulu. Tapi tidak untuk kali ini.

“Jadi, kamu mau ngomong apa?” tanyanya dan mata bulatnya menatapku lekat-lekat.

Aku lalu mengambil sesuatu dari dalam tasku. Dua kunci yang aku dapatkan dari kantorku. Kutenteng kunci itu, kupamerkan pada Putri.

“Kita akan segera menikah!” jawabku antusias.

Putri mengerutkan keningnya. “Maksud kamu?” tanyanya heran.

Aku mengangguk dan kuletakkan kunci itu di meja, sambal kugenggam erat tangannya. “Aku diangkat menjadi manager. Dan aku mendapatkan fasilitas apartemen dan mobil mewah. Seperti keinginan kamu,” jawabku panjang lebar.

Putri menatapku lekat. Lalu dia melepaskan genggamanku.

“Kenapa, sayang?” tanyaku lembut.

Putri menggeleng pelan, kemudian dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Selembar undangan yang membuat mataku terbelalak.

“Maafin aku Ji,” ucap Putri pelan.

Putri & Dimas

Sesuatu itu tak pernah kusadari, sebab aku hanya pelampiasan buat Putri. Bodohnya aku, siapakah aku dibandingkan Dimas yang kaya dan anak seorang pejabat.

“Kalau kamu masih mengharapkannya, kenapa kamu memberiku kesempatan berulang Put? Bahkan kamu memberikan syarat-syarat bagiku. Dan setelah aku mampu mewujudkannya, ini balasan kamu?” tanyaku berusaha untuk tidak emosi.

“Maafin aku, Ji.”

Aku masih berusaha meredam kecewaku. Membunuh amarah yang nyaris membuatku ingin menampar seseorang yang paling kucintainya. Sayangnya, aku tak sebanci itu.

Aku tahu, selama ini cinta terlalu menutup mataku tentang Putri yang matre. Tentang Putri yang hanya berpura-pura mencintaiku. Dan tentang Putri yang hanya butuh teman dalam kesepiannya. “Ya ya ya… semoga kalian berbahagia!” ucapku lalu hening menyelimuti kami.

Baca Juga : Dalam Sujud Terakhirku, Namamu Selalu Ada Di Setiap Doaku

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel