Suamiku Susah Diajak Ngobrol, Tapi Dia Adalah Suami Terbaik Bagiku

“Suamiku tuh romantis banget, tahu enggak kalau kemarin tuh sepulang kerja dia beliin aku nih kalung sama sebuket mawar merah,” pamer Anita sembari menunjukkan kalung barunya.

Selama ini, dari kami berlima : aku, Nena, Fika, Angela dan Anita, Anitalah yang paling beruntung di antara kami. Suaminya bukan hanya seorang konglomerat, tapi juga romantis sekali. Anita kerap sekali diberikan kado-kado mewah. Anita juga sering diajak jalan-jalan ke luar negeri.


Sementara Nena, dia bersuamikan seorang karyawan biasa. Jarang sekali dia dibelikan kado mewah dari Dio, suami Nena. Akan tetapi, keberuntungan Nena adalah dia mempunyai suami yang sangat pengertian. Sering sekali membantu Nena untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, membesarkan anak-anaknya dan satu lagi, Dion adalah teman diskusi yang baik. Berbeda dengan suamiku yang sulit diajak ngobrol.

Sementara Fika dan Angela, mereka berdua tipekal isteri yang cuek terhadap suami. Yang terpenting bagi mereka adalah transferan masuk tepat waktu. Telah dikit saja, bisa dipastikan mereka akan marah-marah.

Ya ya, Fika, Angela dan Anita bisa dibilang beruntung soal mendapatkan suami kaya. Berbeda dengan aku dan Nena, suami kami hanya berpenghasilan pas-pasan. Bedanya, suami Nena bisa diajak berdiskusi sementara suamiku tidak. Suamiku terlalu pendiam dan rasanya sulit sekali ngobrol bersamanya. Tapi meskipun begitu, dia tetaplah suami terbaik untukku dan ayah terhebat dari anak-anakku.

“Suami gue sih enggak pernah ngasih kado-kado gitu. Gue sih juga ogah, yang penting mentahnya aja masuk ke rekening. Abisnya sih, dia enggak tahu selera isterinya,” sahut Fika. “Jadi, kemarin pas dia dapat bonus dari perusahaannya, yaudah gue beli nih tas aja,” tambahnya sembari memamerkan tas branded terbarunya.

“Boro-boro kalian bisa dapat kalung sama tas, lah gue? Enggak tahu deh bulan ini suami gue cuma ngasih gue 20 juta,” Angela mengeluh.

20 juta itu cuma? Aku dan Nena saling berpandangan. Gaji suami kami enggak sebanyak itu tapi kami tak pernah mengeluh. Kami hanya menarik nafas panjang dan tak berani berkomentar. Kami sudah hafal betul watak ketiga teman kami itu, jika kami berkomentar justeru mereka akan menceramahi kami kenapa kami tidak mencari suami kaya, seperti mereka!

Dari kami berlima, aku dan Nena adalah yang paling dekat. Kami berlima sebenarnya adalah satu geng sedari SMA. Cuma bedanya, kami berbeda nasib. Meskipun sampai sekarang masih bersahabat dan masih sering berkumpul bersama. Akan tetapi, menurutku Nenalah yang paling mengerti keadaanku. Begitupun sebaliknya, aku juga mengerti keadaannya.

Baca Juga : Lihat Dulu Perjuanganku, Setelah Itu Nilai Apa Aku Pantas Hidup Bersamamu

Hari ini, Nena bercerita padaku kalau dia sangat terbantu oleh Dion. Sebab Dion itu suami yang baik menurutnya. Bahkan disaat pulang kerja dan lelah, Dion masih saja setia mendengarkan setiap keluhan Nena soal anak-anak. Dan hebatnya, semengeluh apapun Nena, Dion selalu mampu mendinginkannya. Sama sekali tak ada amarah yang Dion pancarkan. Jujur saja, terkadang aku merasa iri.

Berbeda dengan Mas Rinto, suamiku. Setiap pulang dari kerja, teh hangat air hangat untuknya mandi harus sudah siap. Habis itu kami makan malam bersama. Setelahnya, aku membersihkan urusan dapur dan terkadang dia menyelesaikan pekerjaan kantor yang dibawanya ke rumah. Jangankan berdiskusi  soal anak-anak atau mendengarkan keluhanku, ngobrol saja kami jarang sekali.

Capek? Itu pasti, tapi apa boleh buat. Sedari kami memutuskan untuk menikah, kami sudah saling mengenal pribadi masing-masing. Mas Rinto tipekal seorang lelaki pendiam yang pelit berbicara. Tapi sebenarnya dia adalah lelaki yang baik dan penuh tanggungjawab.

Pernah suatu ketika aku sakit dan nyaris tak bisa melakukan semua tugasku. Tanpa aku minta, tanpa dia menjelaskan, di tengah kesibukannya dia menggantikan peranku. Bangun lebih awal dan menyiapkan sarapan serta keperluan anak-anak sekolah. Di tengah istirahat kantor dia menyempatkan diri menjemput anak-anak. Dan sepulang kantor, dia juga menyiapkan sendiri teh hangat dan air hangat untuknya mandi.

Dia memang tidak bertanya apakah aku sudah enak, tapi dia mengecek suhu badanku. Bahkan dia juga tidak memerintahku. Kemudian ada perhatian lain yang Mas Rinto berikan, yaitu perhatiannya pada kedua orang tuaku dan perhatiannya pada adik-adikku. Itu semua adalah hal-hal yang menurutku berbeda dari laki-laki lain. Dan satu lagi, tentang kesetiaan Mas Rinto tidak usah dipertanyakan lagi.

Hari itu kami berlima kembali berkumpul setelah 3 bulan kami sibuk dengan urusan masing-masing. Pertemuan kali ini mungkin akan menjadi pertemuan yang lama. Kami, dengan urusan rumah tangga masing-masing ternyata banyak hal-hal yang tersimpan, namun hari ini harus terkuak dengan begitu gamblangnya.

Dimulai dari Anita yang hidupnya paling sempurna ternyata tak sesempurna yang kami kira. Dibalik kado-kado mewah dan seringnya diajak jalan-jalan sama suaminya, ada harga mahal yang harus Anita bayarkan. Pram, suami Anita ini tak hanya suka main wanita, tapi juga melakukan bisnis kotor dan sekarang perusahaannya diambang kebangkrutan.

Adapula Fika, suami yang konon katanya sering mendapatkan bonus dari perusahaannya tempatnya bekerja, ternyata tak lain adalah seorang koruptor. Dan saat ini tengah nganggur lantaran dipecat dari perusahaannya.

Cerita lain datang dari Angela. Suaminya yang beberapa bulan terakhir sering memberikan uang belanja kurang, ternyata diam-diam menikah dengan wanita lain bahkan sudah mempunyai anak dari wanita itu. Dan kini Angela harus siap-siap untuk dicerai lantaran Angela tak memberikan keturunan pada suaminya.

Baca Juga : Menanti Datangnya Cintamu di Dalam Sepinya Hati Ini

Suami yang Angela banggakan, suami yang selama ini dikira sangat mencintainya, ternyata tak seperti ini. Dan cerita yang tak pernah kukira adalah cerita dari Nena. Nena yang sempat membuatku iri lantaran Dion selalu menjadi teman diskusi yang baik, ternyata tak kalah brengseknya dari Pram dan yang lainnya. Dion ternyata juga berselingkuh dengan salah satu rekannya di kantor.

Bahkan selingkuhannya Dion sempat mendatangi Nena. Mencemooh Nena yang hanya ibu rumah tangga. Sungguh, zaman sekarang pelakor semain di depan. Dan Nena tak pernah habis pikir, bagaimana seorang Dion mampu melakukan hal serendah ini? Padahal, apa kurangnya Nena?

Demi membesarkan anak-anaknya dan berperan menjadi ibu rumah tangga yang baik, Nena rela meninggalkan kariernya yang saat itu tengah menanjak. Nena yang biasanya mampu menghidupi dirinya sendiri dengan kecukupan, rela mendapatkan nafkah dari Dion yang bisa dibilang pas-pasan. Mendengarkan cerita mereka, aku hanya bisa menarik nafas panjang.

Suamiku memang tidaklah sempurna. Penghasilan pas-pasan, sama sekali tak ada keromantisan yang dia berikan padaku, ngobrol saja tak pernah, tapi dialah suami yang terbaik untukku. Tentang tanggung jawab dan kesetiannya yang tak bisa kupamerkan, suamiku adalah suami yang pantas untuk kubanggakan. Di balik sifatnya yang pendiam, dia menyipan berjuta misteri yang pantas untuk kubanggakan. Dan menikah dengan Mas Rinto adalah keberuntungan yang tak bisa kuungkapkan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel