Wanita Yang Kudekati Lebih Dulu Bertunangan dengan Pria Lain

Kali ini aku akan menceritakan tentang dia, yaitu seorang wanita yang kukenal di tempat kerja. Tentang wanita yang begitu ramah, yang akhirnya aku dekati dan dia memberikan sambutan yang begitu baik. Tapi sayangnya, disaat aku menyatakan rasa, semua telah terlambat. Dia, wanita yang kucinta, dia yang akhirnya menanamkan luka. Pada akhirnya, harus kutemui kenyataan karena dia telah bertunangan dengan orang lain.

Disty Anastasia, dia teman kerjaku dan dia perempuan yang baik. Tidak cantik tapi manis, serta ia merupakan wanita yang ramah. Selain itu, ia sangat mudah berteman dengan siapa saja, termasuk denganku. Bahkan dialah teman yang telah banyak membantuku selama ini.


“Dis, nanti makan siang baru yuk,” ajakku sembari mendekati ke tempat kerjanya.

Disty menatapku. Mengerlingkan matanya seolah berpikir sejenak. “Boleh. Di mana?” jawabnya balas bertanya.

“Hmm, bagaimana kalau ke Cafe Nuansa. Enggak jauh kok dari kantor,” jawabku.

Disty mengangguk. “Okey. Tapi nanti pakai mobil kamu aja yah? Aku enggak bawa mobil soalnya.”

“Oke. Sampai ketemu nanti!”

Akhirnya. Aku bisa mengajak pujaan hatiku itu makan siang bareng. Eh, pujaan hati? Sejak kapan Disty menjadi pujaan hatiku?

“Woy… ngalamun saja! Mikir apa lo?” tanya Giorgi, teman kerja yang duduk di sebelahku mengagetkan lamunanku.

“Kampret! Ngalamunin lo, puas?!” jawabku dengan nada kesal.

Giorgi justru tertawa terbahak-bahak. “Lo sedang jatuh cinta, ya?” tebaknya dengan benar. Kalau ini sebuah kuis, sudah pastilah dia menang dan mendapat satu piring cantik.

“Ngaco!” Aku berusaha menyangkal pertanyaannya.

“Udahlah Jo, lo tuh ngaku aja! Akhir-akhir ini gue perhatiin lo tuh sering banget ngalamun, udah gitu senyum-senyum sendiri. Emangnya, lo jatuh cinta sama siapa sih?” Tanya Giorgi yang sangat penasaran.

Baca Juga : Ya Allah, Tolong Balas Sakit Hati Ini, Gantilah Ia Dengan Wanita Yang Lebih Baik 

“Enggak usah sok tahu deh lo, udah kayak cenayang aja,” aku masih saja berusaha menyangkalnya.

“Mata lo tuh enggak bisa bohong!”. ucap Giorgi.

“Terus?”

“Apa salahnya jujur?” Tanya Giorgi yang masih penasaran

“Buat apa?”

“Buat ngakuin kalau lo tengah jatuh cinta! Hahaha…” Sahut si Giorgi sambil meledekku yang sedang jatuh cinta ini.

Sudah beberapa bulan ini aku semakin dekat dengan Disty. Kami tak hanya sering makan siang bareng, tapi kami juga sering keluar bersama. Setiap akhir pekan, kami sering sekali nonton bareng atau sekedar jalan-jalan ke mall. Bukan itu saja sih, tapi aku juga sering mengantar jemput Disty.

Harapanku, hubungan aku dan Disty akan berlanjut ke tahap selanjutnya. Akan tetapi sampai saat ini aku belum berani menyatakan perasaanku. Meskipun Disty selalu menanggapiku dan tak pernah menolak setiap tawaranku, tapi apakah perasaannya juga sebenarnya mencintaiku seperti aku yang mencintainya?

Sebuah ketakutan merasuk dalam hatiku. Aku takut jika aku menyatakan perasaanku, justru semua akan berujung berbeda. Tapi tak mungkin juga selamanya aku hanya seperti ini dengan Disty. Hampir enam bulan kami menjalin hubungan sedekat ini.

“Dis,” panggilku sembari tetap fokus menyetir

“Iya,” jawabnya tanpa menoleh ke arahku. Matanya fokus pada layar smartphone yang sedari tadi tak pernah lepas dari genggamannya.

“Aku…” jawabnya belum selesai karena tiba-tiba smartphone Disty berdering.

“Eh, bentar-bentar,” potong Disty lalu mengangkat teleponnya. “Iya, ada apa? Aku lagi di jalan sama Jo. Oh, oke,” ucap Disty ke seberang sana.

“Oh ya Jo, tadi mau ngomong apa?” tanya Disty sejurus kemudian. Dia menatapku dan aku sempat melirik.

“Apa ya tadi? Hmm… aku lupa,” bohongku.

“Lupa? Kamu tuh kebiasaan banget. Oh ya, nanti mampir ke toko kue bentar ya? Yang ada di depan saja itu,” pinta Disty yang langsung kuiyakan saja. Kemudian keheninganpun menyelimuti perjalanan kami. Aku masih fokus menyetir sementara Disty fokus dengan smartphone-nya lagi.

Baca Juga : Dalam Sujud Terakhirku, Namamu Selalu Ada Di Setiap Doaku 

Dulu, aku pernah jatuh cinta. Pernah pula dekat dengan seorang wanita. Akan tetapi aku tak pernah merasa segrogi ini, pendekatannya juga tak selama ini. Sebulan dua bulan, aku berani menyatakan perasaanku. Jika ternyata aku ditolak, ya biarkan. Tapi tidak untuk kali ini, karena untuk yang ini sangatlah berbeda. Rasa itu sungguh beda, bukan hanya tentang cinta tapi juga tentang takut kehilangan.

Disty terlalu sempurna jika sampai terlepaskan. Kenyamanan dan pengertiannya selama ini adalah dua hal yang tak pernah kudapatkan dari wanita lain. Dan aku tak sanggup untuk kehilangan itu jika kunyatakan cintaku tapi Disty menolaknya.

“Ngalamun lagi! Tapi enggak jelas ngalamuni siapa?” Giorgi kembali menggodaku.

“Nggak bisa lihat orang seneng aja sih lo,” balasku kesal.

“Yah, seneng kok ngelamun. Seneng itu ya kenalin dong ke gue, wanita mana sih yang ngebuat lo setiap detik ngelamun aja?”

“Ngawur! Enggak setiap detik juga kali?”

“Enggak setiap detik tapi setiap saat!” Giorgi menandaskan.

Aku hanya tersenyum, terkadang aku ingin meminta saran dari Giorgi. Ingin menanyakan tentang Disty lebih dalam pada Giorgi. Secara, Giorgi ini lebih senior dariku dan pastinya dia sudah sangat mengenal Disty dibandingkan aku. Tapi sayangnya, niatan hanya sebuah niatan. Aku terlalu malu untuk jujur pada Giorgi.

“Gi…” panggilku ke Giorgi, kali ini aku berusaha serius. “Apa lo pernah jatuh cinta? Tapi, lo takut menyatakan perasaan lo karena lo enggak mau kehilangan dia?” tanyaku dengan nada serius. Giorgi menarik nafas panjang. “Pernahlah, Jo. Gue pernah jatuh cinta sama seorang wanita. Dulu, gue cinta banget sama dia”.

“Tapi bodohnya gue, gue enggak pernah punya nyali buat mengutarakan perasaan gue itu. Hingga akhirnya gue terima kenyataan kalau dia udah tunangan sama orang lain padahal kata sahabat dia, selama ini dia juga mencintai gue dan menunggu pernyataan cinta gue,” jawab Giorgi panjang lebar. “Saran gue, kalau lo benar-benar jatuh cinta sama seorang wanita, lo ungkapin apapun konsekuensinya. Lebih baik lo kehilangan tapi lo berani mengungkapkannya daripada lo kehilangan tapi lo enggak mengungkapkannya,” tambahnya.

Baca Juga : Putri Dewi Sartika, Terima Kasih Telah Mempermainkan Perasaanku, Semoga Engkau Mendapatkan Kebahagiaan Yang Kau Inginkan

Hari ini mungkin adalah waktu yang tepat untukku menyatakan perasaanku. Sampai berapa lama lagi aku harus menyimpan ketidakpastian ini? Jadi hari ini, setelah waktunya pulang kuberanikan diri untuk mendekati Disty yang tengah berdiri di depan kantor. Sepertinya dia tengah menunggu seseorang.

“Dis, kamu enggak bawa mobil? Pulang bareng aku yuk,” ajakku. Belum sempat Disty menjawab, ada mobil sedan hitam berhenti di depan kami. Seorang lelaki turun dari mobil itu, lelaki yang asing dalam pandanganku.

“Sorry ya Jo, lain kali aja ya. Soalnya aku dijemput Nathan,” jawab Disty yang membuat jantungku berdegup lebih kencang daripada biasanya. “Oh ya Jo, Nathan ini tunanganku dan bulan depan kami mau nikah. Oh ya, Sayang, ini Jo yang selama ini aku ceritain ke kamu…” lanjut Disty yang membuat duniaku runtuh seketika.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel