Ya Allah, Tolong Balas Sakit Hati Ini, Gantilah Ia Dengan Wanita Yang Lebih Baik

Dulu orang-orang menganggapku sebagai seorang lelaki yang paling beruntung karena aku bisa menikahi Dinar. Seorang wanita kembang desa yang usianya sepuluh tahun lebih muda dariku. Seorang wanita yang menjadi rebutan para jejaka, tapi aku yang berhasil meminangnya. Meskipun jalan yang kulalui bukanlah jalan yang mudah. Menanti hatinya luluh dan sabar menghadapinya. Dan aku bahagia karena kesabaranku itu berbuah manis.

Tapi hari ini, aku adalah lelaki bodoh yang gagal. Harga diriku hilang dan tak lagi tersisa, wanita yang teramat kucintai itu telah menghancurkan harapanku. Rumah tangga yang 5 tahun kami bina harus berakhir dengan sia-sia. Setelah sebelumnya aku dicurangi beberapa kali. Setelah beberapa kali pula aku memaafkannya, tapi tidak untuk hari ini.


“Cinta sih cinta Den, tapi cinta itu enggak sebodoh ini,” ucap Mbak Sari, kakakku.

Mbak Sari tahu betul sifat Dinar, dari awal dia menentang hubunganku dengan Dinar. Secara Mbak Sari sangat tahu bagaimana watak Dinar. Dan Mbak Sari juga paham, Dinar tak pernah mencintaiku. Kami berhasil menikah lantaran ibunya Dinar yang memaksa Dinar. Bahkan ibunya Dinar pernah mengancam akan bunuh diri kalau Dinar tidak mau menikah denganku.

Kala itu aku bahagia karena ibunya Dinar berpihak padaku. Soal Dinar, aku selalu yakin kalau suatu saat dia akan mampu mencintaiku. Karena akhirnya, kita juga mempunyai keturunan.  Bagaimana bisa punya buah hati jika tak saling mencintai?

Baca Juga : Dalam Sujud Terakhirku, Namamu Selalu Ada Di Setiap Doaku 

Dan keyakinan itu hanyalah sebatas keyakinan, karena takdir membuka mataku. Berulang kali Dinar berselingkuh dengan lelaki lain. Bahkan, keluargakupun sangsi soal Viola, buah hati kami sebenarnya anak siapa. Secara, Viola sama sekali tak mirip denganku.

“Mbak, aku mungkin bisa melepaskan Dinar. Tapi, aku enggak bisa kalau harus kehilangan Viola, Mbak,” ucapku ke Mbak Sari.

Entah Viola anak kandungku apa tidak, aku terlanjur menyayanginya. Sedari bayi aku yang merawatnya karena Dinar sama sekali tak mau merawat Viola. Bahkan Dinar sempat berkeinginan untuk menggugurkan kandungannya kala itu, tapi aku melarangnya. Dan konsekuensinya, Dinar sama sekali tak mau mengurus Viola. Dinar selalu fokus pada dirinya sendiri. Pada lelaki-lelakinya yang kutak pernah mengenal siapa mereka.

“Kalau Viola itu sebenarnya bukan anak kamu, apa kamu juga tetap enggak bisa kehilangan dia?” pertanyaan Mbak Sari sungguh menohok hatiku.

“Viola enggak salah apa-apa, Mbak,” aku berusaha membela diri. Karena kenyataannya juga begitu. Kenyataan Viola darah dagingku apa bukan, Viola tidak salah apa-apa.

Hari ini Dinar kembali berulah, sedari pagi dia pergi dijemput seorang lelaki dan sampai tengah malam dia belum pulang. Padahal Viola tengah sakit. Sungguh, ibu macam apa dia? Dia boleh saja jadi isteri yang tak baik, tapi tetap saja dia harus berperan jadi ibu yang baik. Viola itu darah dagingnya. Apapun alasannya, menurutku Dinar harus ada disaat Viola sakit. Tapi, kenyataannya?

Baca Juga : Putri Dewi Sartika, Terima Kasih Telah Mempermainkan Perasaanku, Semoga Engkau Mendapatkan Kebahagiaan Yang Kau Inginkan

Jam sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Kudengar ada suara mobil berhenti di depan rumah. Seorang wanita turun dari mobil itu bersama seorang lelaki. Sebelum masuk ke dalam rumah, mereka sempat berciuman. Sementara sang lelaki kembali masuk ke dalam mobilnya dan kembali melajukan mobilnya.

Dinar membuka pintu. Dia menatapku sinis.

“Dari mana saja kamu, Din? Dan siapa lelaki itu?” aku memberondonginya dengan sederet pertanyaan.

Dinar mengacuhkanku. Dia langsung menuju ke kamar dan aku mengikutinya.

“Jawab pertanyaanku, Din!” aku membentaknya. Kali ini aku sudah kehilangan kesabaran. Karena menurutku ini sudah keterlaluan. Apalagi ini sudah menyangkut Viola.

“Itu bukan urusanmu!” jawabnya dengan sinis.

“Kamu istriku!”

“Tapi aku tidak mencintaimu.”

Aku menarik nafas panjang. “Oke, kamu boleh saja tidak mencintaiku. Tapi Viola itu anak kamu, darah daging kamu dan sekarang dia sedang sakit. Sebagai seorang ibu, seharusnya kamu ada buat dia!”

Baca Juga : Suamiku Susah Diajak Ngobrol, Tapi Dia Adalah Suami Terbaik Bagiku

Dinar berjalan ke arahku. Menatapku dengan tajam. “Aku tidak peduli. Dari awal aku tak pernah menginginkan kehadirannya!”

Ucapan Dinar kali membuat emosiku memuncak. Aku menatapnya dengan tatapan tajam juga. Cinta yang dulu begitu menggebu, kini telah berubah benci dan sangat benci. Sabar yang selama ini kuberikan, kini beralih menjadi muak yang tidak lagi bisa ditahan lagi.

“Sekarang juga, aku talak kamu! Kemasi barang-barang kamu dan jangan pernah kembali lagi ke sini!” usirku pada Dinar.

Dinar tersenyum sinis. “Kamu mengusirku? Oke, aku tak masalah!” ucapnya lalu mengemasi barang-barangnya dan diapun pergi.

Sesal itu ada dan aku menjadi suami yang gagal. Aku tak bisa mendidik isteriku sendiri. Dan kini, aku tak menuntunnya ke arah yang benar tapi malah menceraikannya. Dan kini, aku harus membesarkan Viola seorang diri. Padahal Viola masih kecil dan dia membutuhkan kehadiran seorang ibu.

“Aku gagal, Mbak,” ucapku ke Mbak Sari.

Mbak Sari mengusap punggungku dengan lembut. “Enggak Den, kamu enggak gagal. Hanya saja ini belum jodoh kamu,” Mbak Sari berusaha membesarkan hatiku. Aku menunduk lemah dan hatiku terasa terluka. Namun bukan jalan seperti ini yang kuharapkan, karena cinta terlalu membodohiku. Dan kini aku harus menanggung konsekuensi dari kebodohanku.

“Den, yang terjadi biarlah terjadi. Semua ini cukup kamu jadikan pembelajaran buat ke depan. Dan yang terpenting untuk saat ini, fokus saja untuk masa depan Viola,” Mbak Sari kembali menasehatiku. “Mbak yakin kok Den, Tuhan itu Maha Adil. Kelak Dinar akan menuai apa yang ia tabur. Sementara kamu, kamu pasti mendapatkan wanita yang lebih baik dari Dinar,” tambahnya.

“Iya Mbak, semoga saja.”

Dan hari-hari terus berlalu. Menjadi seorang single parents bukanlah hal yang mudah. Untuk mengobati lukakupun butuh waktu. Tapi aku bersyukur, hak asuh Viola ada padaku jadi aku bisa merawatnya dan membesarkan dengan penuh kasih sayang. Setidaknya bidadari kecil ini bisa menjadi penyemangat untukku dalam kehidupan ini.

Baca Juga : Lihat Dulu Perjuanganku, Setelah Itu Nilai Apa Aku Pantas Hidup Bersamamu

Sakit, jelas sungguh sakit karena ketulusan dan pengorbananku selama ini dibalas dengan pengkhianatan. Tapi apa daya, tak mungkin aku membalas perbuatan Dinar. Karena walau bagaimana juga, jauh di lubuk hatiku rasa ini masih milik Dinar.

Aku yakin, kelak Tuhan akan membalas setiap perlakuan Dinar terhadapku dan terhadap Viola. Begitupun aku juga yakin, di ujung sana ada seorang wanita terbaik yang Tuhan persiapkan untukku. Dan hanyalah waktu yang mampu menjawab keyakinanku itu.

Aku tersenyum memandang Viola yang dengan lahap memakan sarapannya. “Vi, nanti kalau sudah selesai sarapannya, Ayah antar ke sekolah ya?” ucapku pada bocah berusia 6 tahun itu.

“Iya, Ayah,” jawabnya dengan tersenyum. Dan beginilah keluarga kami, mengukir hari berdua menanti seorang wanita yang akan menjadi pelengkap hidup kami.

Baca Juga : Wanita Yang Kudekati Lebih Dulu Bertunangan dengan Pria Lain 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel